Riset yang dilakukan oleh Context Consulting ini memiliki 4.045 responden yang berasal dari Tiongkok, India, Spanyol dan Amerika Serikat. Dalam riset ini, para responden diminta untuk menjelaskan tentang bagaimana mereka menggunakan layanan tradisional dari operator, yaitu SMS dan telepon, dan layanan aplikasi messaging berbasis internet.
Hasil dari survei ini menunjukkan bahwa para responden lebih tertarik untuk menggunakan aplikasi messaging yang disediakan oleh operator dari aplikasi messaging yang berbasis internet buatan pihak ketiga. Sebanyak 79 persen responden merasa layanan itu relevan bagi mereka.
Namun, para responden ingin agar aplikasi messaging dari operator tersebut tetap dilengkapi dengan berbagai fitur yang memungkinkan mereka untuk menyajikan konten multimedia seperti live video, foto real-time, file sharing dan fitur pre-calling.
Semua fitur ini dapat dimasukkan ke dalam aplikasi dengan Rich Communications Services (RCS) dan VoLTE (Voice over LTE). Para pelanggan juga berharap, aplikasi messaging dari operator ini dapat bekerja di aplikasi dan jaringan apa pun tanpa harus mengunduh aplikasi tertentu.
"Meskipun aplikasi messaging berbasis internet sangat populer, tapi ia bersifat tertutup, mengharuskan pengguna untuk mengunduh aplikasi yang mungkin tidak dimiliki oleh semua kenalan mereka," kata Chief Technology, GSMA, Alex Sinclair.
"Operator mobile memiliki peran penting untuk menawarkan aplikasi messaing yang dapat diandalkan, dapat bekerja secara universal di perangkat dan jaringan apa pun."
Dia menjelaskan, operator dapat memenuhi permintaan ini dengan menggunakan RCS dan VoLTE, yang, ketika dihubungkan dengan operator lain, memungkinkan pengguna untuk menghubungi siapa pun melalui jaringan apa pun.
Salah satu fitur yang pelanggan inginkan adalah sebuah fitur yang disebut pre-calling atau pra-telepon, yang pada dasarnya memungkinkan seseorang untuk tahu seberapa penting sebuah panggilan. Selain itu, fitur lain yang mereka inginkan adalah chat one-on-one dan kemampuan untuk melakukan panggilan telepon via jaringan mobile dan WiFi.
Operator memang tidak akan dapat meminta pelanggan untuk membayar ketika mereka menggunakan layanan messaging berbasis internet, tapi menurut data dari GSMA Intelligence, para operator tetap dapat meraup keuntungan hingga USD5 miliar dalam waktu lima tahun, yaitu dari 2015 hingga 2020.
Diperkirakan, pasar enterprise adalah alasan dari pertumbuhan ini. Selain itu, pendorong pertumbuhan yang lain adalah produk baru dan inovasi di bidang layanan, misalnya conversational commerce, yang memungkinkan pengguna untuk melakukan transaksi pembelian/penjualan melalui aplikasi messaging.
Laporan yang dibuat oleh GSMA ini juga menunjukkan bahwa operator bisa memposisikan aplikasi messaging yang mereka buat sebagai opsi yang lebih aman dan privat dari aplikasi messaging lain.
Saat ini, GSMA bekerja sama dengan operator-operator dan vendor perangkat mobile dari berbagai negara di dunia untuk menawarkan aplikasi messaging yang open dan konsisten di Android. Saat ini, program ini telah didukung oleh 57 operator dan vendor. Tiga di antaranya adalah operator Indonesia, yaitu Axiata Group, Indosat Ooredoo dan Telkomsel.
Beberapa vendor yang mendukung program GSMA ini antara lain ASUS, General Mobile, Intex Technologies, Lava International, Alcatel, HTC, LG, Lenovo/Motorola, Samsung, dan ZTE. Selain operator dan vendor smartphone, GSMA juga mendapatkan dukungan dari Google dan Microsoft.
"Program ini bertujuan untuk menyediakan profil universal yang memungkinkan operator mobile untuk meluncurkan implementasi RCS dengan fitur-fitur utama yang sama," kata Sinclair.
"Profil universal akan memudahkan pengguna untuk menikmati pengalaman mengirimkan pesan yang konsisten dan kaya, tidak peduli perangkat atau jaringan yang mereka gunakan."
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News