Canva melakukan restrukturisasi yang berdampak pada 1.271 karyawan. Paket pesangon enam bulan gaji, MacBook, dan dana usaha menuai pujian.
Canva melakukan restrukturisasi yang berdampak pada 1.271 karyawan. Paket pesangon enam bulan gaji, MacBook, dan dana usaha menuai pujian.

Canva Pangkas Karyawan, Paket Pesangon Tuai Apresiasi

Lufthi Anggraeni • 07 November 2026 17:08
Ringkasnya gini..
  • Besarnya paket kompensasi Canva mendapat perhatian dari kalangan profesional dan pelaku industri teknologi.
  • Canva juga akan menyederhanakan jenjang manajemen dan menggabungkan sejumlah tanggung jawab yang saling tumpang tindih.
  • Di sisi lain, perhatian terhadap paket kompensasi menunjukkan bahwa kebijakan PHK tidak hanya dinilai berdasarkan jumlah pekerjaan yang dikurangi.
Jakarta: Perusahaan platform desain digital asal Australia, Canva, mengumumkan restrukturisasi besar-besaran yang berdampak terhadap 1.271 karyawan atau sekitar 22% dari total tenaga kerjanya. 

Kendati keputusan tersebut mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK), perusahaan justru memperoleh apresiasi karena menawarkan paket kompensasi yang dinilai lebih besar dibandingkan dengan praktik umum di industri teknologi.

Kebijakan tersebut diumumkan CEO sekaligus salah satu pendiri Canva, Melanie Perkins, melalui memo internal perusahaan yang juga dibagikan kepada publik. Dalam pengumuman tersebut, Perkins menjelaskan bahwa restrukturisasi dilakukan untuk mempersiapkan Canva menghadapi perubahan industri teknologi dan kebutuhan bisnis pada masa mendatang.

Namun, angka 1.271 orang tidak seluruhnya merujuk pada karyawan yang kehilangan pekerjaan. Jumlah tersebut mencakup pegawai yang mengalami perubahan posisi, diminta berpindah lokasi kerja, maupun harus meninggalkan perusahaan. Canva belum mengungkapkan jumlah pasti karyawan yang terkena PHK.

Perhatian publik kemudian tertuju pada paket kompensasi yang disiapkan bagi karyawan yang harus keluar. Canva menawarkan pembayaran minimal setara enam bulan gaji, kelanjutan perlindungan kesehatan selama satu tahun di wilayah yang memenuhi ketentuan, serta dukungan pengembangan karier.

Perusahaan juga mengizinkan karyawan yang terdampak PHK untuk membawa pulang MacBook yang sebelumnya digunakan sebagai fasilitas kerja. Selain itu, tersedia bantuan dana hingga USD10.000 atau sekitar Rp181,1 juta bagi karyawan yang memenuhi persyaratan dan ingin membangun usaha maupun menjalankan proyek baru.

Kebijakan tersebut mendapat tanggapan positif dari sejumlah pelaku industri dan pengguna media sosial, yang menilai Canva memberikan contoh pendekatan lebih manusiawi dalam menangani pengurangan tenaga kerja.
 
Canva_sydney_office_2
 

Canva Berikan Pesangon Enam Bulan Gaji

Salah satu aspek yang paling banyak mendapat perhatian adalah besarnya kompensasi finansial bagi karyawan yang harus meninggalkan perusahaan. Canva memastikan setiap karyawan yang keluar akan menerima pembayaran minimal setara enam bulan gaji, termasuk hak yang diwajibkan berdasarkan peraturan ketenagakerjaan setempat. 

Ketentuan tersebut berlaku tanpa membedakan lokasi kerja karyawan. Selain pembayaran gaji, perusahaan menawarkan perlindungan kesehatan selama 12 bulan di negara tempat fasilitas tersebut tersedia.

Karyawan yang keluar juga tetap memperoleh akses ke Canva Care, program bantuan karyawan yang menyediakan dukungan kesejahteraan bagi pekerja dan keluarga mereka, selama satu tahun. Untuk membantu proses transisi menuju pekerjaan berikutnya, Canva menyediakan pendampingan karier secara individual. 

Program tersebut mencakup peninjauan resume, persiapan wawancara kerja, hingga latihan menghadapi proses rekrutmen. Canva juga memberikan akses LinkedIn Premium selama 12 bulan agar karyawan dapat memanfaatkan fitur pencarian kerja dan pengembangan jaringan profesional.

Sebagian tim rekrutmen internal Canva turut dilibatkan untuk membantu para karyawan yang terdampak menemukan peluang pekerjaan baru. Perusahaan ini turut menyiapkan direktori alumni yang bersifat sukarela. Informasi mengenai karyawan yang bersedia bergabung dalam direktori tersebut akan dibagikan kepada investor, mitra bisnis, dan jaringan industri perusahaan.

Menariknya, Canva mengizinkan karyawan yang keluar untuk tetap memiliki MacBook fasilitas perusahaan. Kebijakan ini bertujuan membantu mereka melanjutkan aktivitas profesional, termasuk mencari pekerjaan atau membangun usaha, tanpa harus langsung membeli perangkat baru.

Perusahaan juga menghapus ketentuan masa tunggu satu tahun untuk memperoleh hak kepemilikan saham tertentu bagi karyawan yang baru bergabung dalam 12 bulan terakhir. Dengan demikian, karyawan yang memenuhi ketentuan tidak kehilangan hak tersebut hanya karena hubungan kerja berakhir sebelum mencapai satu tahun masa kerja.

Sediakan Dana Usaha hingga Rp181,1 juta

Selain memberikan pesangon dan dukungan pencarian kerja, Canva memperkenalkan program Canva Collective Fund untuk membantu karyawan yang ingin memulai kegiatan profesional secara mandiri. Melalui program tersebut, karyawan yang memenuhi persyaratan dapat mengajukan dana hibah sebesar USD10.000 atau sekitar Rp181,1 juta.

Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendirikan usaha, mengembangkan ide bisnis, maupun menjalankan proyek yang memberikan manfaat bagi komunitas. Berbeda dengan investasi bisnis konvensional, Canva menyatakan tidak akan meminta kepemilikan saham atau hak atas proyek yang dikembangkan menggunakan dana hibah tersebut.

Dengan demikian, penerima bantuan tetap memiliki kendali terhadap usaha atau kegiatan yang mereka jalankan. Program ini tidak diberikan secara otomatis kepada seluruh karyawan yang terdampak. Mereka perlu mengajukan permohonan dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan perusahaan.

Canva membuka pendaftaran Canva Collective Fund hingga tanggal 14 Desember 2026. Menurut laporan Fortune, Canva telah menerima pengajuan dengan berbagai gagasan, dari penulisan dan penerbitan buku, pengembangan pertanian berkelanjutan, hingga melanjutkan pendidikan.

Meski demikian, Canva belum mengungkapkan jumlah penerima hibah yang akan dipilih. Kehadiran program tersebut memperluas bentuk dukungan perusahaan, dari kompensasi atas kehilangan pekerjaan menjadi bantuan untuk membangun sumber penghasilan atau kegiatan baru.
   

Paket Kompensasi Canva Mendapat Apresiasi

Besarnya paket kompensasi Canva mendapat perhatian dari kalangan profesional dan pelaku industri teknologi. CEO sekaligus salah satu pendiri KnotDating Jasveer Singh menilai pendekatan Canva sebagai contoh perusahaan dapat menangani PHK secara lebih bertanggung jawab.

Singh mengapresiasi keterbukaan komunikasi Melanie Perkins serta berbagai bentuk dukungan yang disediakan untuk membantu karyawan menghadapi masa transisi. Sementara itu, editor Rear Window di Australian Financial Review Mark Di Stefano turut menilai paket kompensasi Canva sangat besar.

Tanggapan positif juga muncul dalam kolom komentar unggahan Perkins di LinkedIn. Sejumlah pengguna memuji cara perusahaan menyampaikan keputusan sulit tersebut dengan pendekatan yang dianggap transparan dan memperhatikan kesejahteraan karyawan.

Sebagai perbandingan, laporan perusahaan konsultan Challenger, Gray & Christmas pada 2025 mencatat rata-rata kompensasi PHK di industri teknologi selama tahun 2024 setara sekitar 11,2 minggu gaji.

Jumlah tersebut jauh di bawah kompensasi minimal enam bulan atau sekitar 26 minggu gaji yang ditawarkan Canva. Meski demikian, penilaian positif terhadap paket pesangon tidak menghilangkan dampak kehilangan pekerjaan bagi karyawan.

Kompensasi finansial dapat membantu memenuhi kebutuhan selama masa transisi, tetapi tidak menjamin bahwa seluruh pekerja akan segera memperoleh pekerjaan baru. Senior Vice President of Career Transition & Mobility di LHH Russell Williams menekankan bahwa efektivitas paket kompensasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya pembayaran.

Menurutnya, dukungan yang membantu karyawan menemukan kembali stabilitas finansial dan profesional merupakan bagian penting dari proses transisi setelah PHK.

Restrukturisasi Dilakukan di Tengah Perlambatan Bisnis

Keputusan Canva melakukan restrukturisasi berlangsung saat perusahaan menghadapi perubahan dalam industri software kreatif.  Dalam memo kepada karyawan, Melanie Perkins mengakui bahwa pertumbuhan Canva melambat untuk pertama kalinya dalam satu dekade.

Perkins menjelaskan bahwa perkembangan perusahaan selama 13 tahun terakhir telah menghasilkan struktur organisasi yang kian rumit. Seiring bertambahnya jumlah karyawan dan lini bisnis, tanggung jawab pekerjaan terbagi ke dalam berbagai tim khusus. 

Kondisi tersebut dinilai meningkatkan kebutuhan koordinasi dan memperpanjang proses pengambilan keputusan. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Canva berencana menyatukan tim Product, Growth, dan Platform dalam satu organisasi produk lebih terintegrasi.

Canva juga akan menyederhanakan jenjang manajemen dan menggabungkan sejumlah tanggung jawab yang saling tumpang tindih. Perkins menyatakan bahwa perusahaan telah mempertimbangkan berbagai alternatif sebelum memutuskan melakukan perubahan organisasi dalam skala besar.

Menurutnya, perubahan terbatas tidak cukup untuk mempersiapkan Canva menghadapi tantangan bisnis selama satu dekade mendatang. Restrukturisasi juga mencakup perubahan lokasi kerja. Sydney akan menjadi pusat utama bagi lebih banyak tim produk dan sejumlah divisi yang membutuhkan kolaborasi langsung.

Mulai bulan Januari 2027, sebagian besar karyawan dengan sistem kerja hibrida diharapkan hadir di kantor sekitar dua hingga tiga hari setiap minggu, bergantung pada kebutuhan masing-masing divisi. Perubahan tersebut berlangsung saat teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memengaruhi industri software kreatif.

Namun, Canva menegaskan bahwa posisi karyawan yang terdampak tidak secara langsung digantikan oleh AI. Perusahaan menyatakan restrukturisasi dilakukan untuk menyesuaikan organisasi dan keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pengembangan produk baru.

Dengan demikian, perubahan tersebut lebih berkaitan dengan penataan struktur dan strategi bisnis daripada penggantian langsung seluruh pekerjaan manusia menggunakan teknologi AI.

Canva Hadapi Tantangan Pertumbuhan

Restrukturisasi menjadi salah satu langkah besar Canva setelah perusahaan mencatat perlambatan pertumbuhan bisnis. Pada bulan Agustus 2026, Canva dilaporkan menurunkan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunannya dari 30% menjadi 20%.

Kendati pertumbuhan melambat, Canva masih memperkirakan pertumbuhan pendapatan positif dan tetap mencatat profitabilitas. Perkins menggambarkan restrukturisasi sebagai salah satu keputusan paling sulit sepanjang 13 tahun perjalanan Canva.

Ia mengakui bahwa perubahan tersebut membawa konsekuensi besar bagi karyawan dan keluarga mereka, sekaligus menegaskan komitmen perusahaan untuk memberikan dukungan selama proses transisi. Bagi Canva, penyederhanaan organisasi diharapkan dapat mempercepat pengambilan keputusan, memperjelas tanggung jawab tim, dan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam mengembangkan produk.

Di sisi lain, perhatian terhadap paket kompensasi menunjukkan bahwa kebijakan PHK tidak hanya dinilai berdasarkan jumlah pekerjaan yang dikurangi, tetapi juga cara perusahaan memperlakukan karyawan yang harus meninggalkan organisasi.

Meskipun mendapat apresiasi, keberhasilan langkah Canva tetap akan bergantung pada efektivitas restrukturisasi serta kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan bisnis di tengah perubahan industri teknologi.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA