Para pembuat smartphone menyadari hal ini. Karena itu, mereka menyediakan layanan untuk melacak dan menghapus data pengguna ketika perangkatnya tercuri, seperti Find My Phone dari Google atau Find My iPhone dari Apple.
Kedua layanan itu memungkinkan Anda melacak perangkat via GPS, mengunci layar atau bahkan membuat perangkat tidak bisa digunakan dari jauh, seperti yang disebutkan ZDNet. Sayangnya, tidak semua orang tahu cara menggunakan layanan tersebut. Masih ada orang yang mau membeli barang curian.
Muncul pertanyaan bagaimana pencuri membersihkan data pada smartphone atau tablet sehingga mereka bisa menjualnya kembali? Para peneliti di Trend Micro mencoba menjawab pertanyaan itu.
Pada Mei 2016, mereka menemukan operasi pencurian perangkat mobile. Dalam operasi itu, para pelaku serangan menawarkan alat dan layanan untuk membuka akun iCloud dan membuka kunci iPhone yang tercuri.
Setelah menyelidiki kasus ini lebih lanjut, Trend Micro menemukan bahwa cara yang digunakan pelaku sejatinya memanfaatkan rasa panik korban untuk mencuri akun mereka.

Langkah pertama yang biasanya pelaku lakukan adalah mengirimkan SMS atau email palsu yang terlihat seolah-olah dikirimkan oleh Apple. Dalam SMS atau email tersebut, mereka akan memberitahukan korban bahwa perangkat mereka telah ditemukan.
Korban yang panik pasti ingin mendapatkan smartphone miliknya kembali. Kemungkinan, korban akan mengklik tautan dalam SMS atau email yang akan meminta mereka untuk memasukkan kredensial akun iCloud mereka.
Informasi tersebut kemudian akan pelaku gunakan untuk mengakses akun iCloud pada perangkat korban dan menggunakannya untuk membuat kunci iPhone yang tercuri.
Dengan begitu, korban tidak bisa melacak iPhone mereka yang hilang atau membuat ponsel tidak bisa digunakan.
"Para penipu Apple iCloud ini menjalankan bisnis mereka menggunakan sekumpulan alat kriminal siber seperti MagicApp, Applekit dan framework Find My iPhone untuk membuka ponsel secara otomatis dengan iCloud sehingga mereka bisa menjual perangkat itu kembali di pasar gelap," tulis para peneliti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News