Bus itu akan berjalan pada sebuah rute yang telah ditentukan dan Baidu tengah bekerja sama dengan perusahaan Tiongkok lain untuk merealisasikan visi bus otonom itu. Li berkata, Baidu sangat serius dalam mengembangkan mobil otonom.
Minggu lalu, Baidu mengumumkan rencananya untuk memproduksi mobil otonom L3 secara massal pada 2019. Mobil L3 adalah mobil otonom masih memerlukan bantuan manusia. Sementara itu, mereka berencana untuk memproduksi L4, mobil yang sepenuhnya otonom, pada 2021.
Untuk itu, Baidu telah bekerja sama dengan manufaktur mobil asal Tiongkok, BAIC Motor Corp. Mobil-mobil ini akan menggunakan Apollo, software mobil otonom open-source yang dikembangkan dengan bantuan NVIDIA. "Kami hanya mengembangkan bagian software," kata Li.
"Kami tidak membuat mobil. Kami menyediakan teknologinya."
Saat ditanya apakah Apollo akan bisa bersaing dengan Waymo, divisi mobil otonom Google, Li optimistis pendekatan open-source Apollo pada akhirnya akan menang. "Sejarah telah membuktikan bahwa sistem terbuka (open source) memiliki momentum yang lebih baik," katanya. "Kami punya lebih banyak sinyal. Kami tahu permintaan dari pasar yang sebenarnya. Ini memberikan kami keuntungan untuk maju ke depan."
Li juga beranggapan, mobil otonom di masa depan akan dilengkapi dengan layar dan hiburan yang tertanam langsung pada mobil. "Bayangan kami, ketika seorang penumpang masuk ke mobil, dia tidak perlu lagi menyentuh ponselnya."
Saat ini, Baidu juga tengah sibuk menanamkan investasi pada kecerdasan buatan, yang tidak hanya akan membantu mereka dalam mengembangkan mobil otonom, tapi juga fitur search mereka. Menurut Li, mereka telah menanamkan USD1.5 miliar (Rp20,3 triliun) pada riset dan pengembangan dan hampir semua dana itu dialokasikan untuk riset AI.
"Baidu adalah perusahaan teknologi," kata Li. "Kita telah memasuki era baru. Kita harus menentukan apa berikutnya."
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News