Soal Adopsi 5G, AS Kalah dari Tiongkok
Ilustrasi. (AFP PHOTO / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / David Becker)
Jakarta: Dalam perlombaan untuk mengembangkan infrastruktur jaringan nirkabel 5G, Tiongkok mengalahkan Amerika Serikat, menurut sebuah laporan.

Sejak 2015, Tiongkok telah mengucurkan dana USD24 miliar (Rp346 triliun) lebih banyak dan mengembangkan 10 kali lipat lebih banyak menara BTS untuk mendukung 5G, menurut laporan Deloitte Consulting, seperti yang dikutip dari CNET.

Tiongkok membangun 350 ribu menara BTS baru sementara AS membangun kurang dari 30 ribu. Selain itu, Tiongkok juga disebutkan membangun lebih banyak menara BTS selama tiga bulan pada 2017 daripada pembangunan yang dilakukan oleh AS selama tiga tahun terakhir.


Dalam laporannya, Deloitte memeringatkan bahwa negara pertama yang mengadopsi teknologi berikutnya dari telekomukasi nirkabel akan mendapatkan "keuntungan besar" karena 5G akan membawa "era dari potensi ekonomi yang belum terjamah."

Selain itu, laporan ini juga menyebutkan bahwa proses pemasangan peralatan 5G di Tiongkok 35 persen lebih murah dari AS.

Jika AS tidak ingin kalah bersaing, Deloitte menyarankan pemerintah untuk mengubah regulasi dengan tujuan mengurangi lama waktu pemasangan perangkat, mendorong operator telekomunikasi untuk saling berkolaborasi dan membuat database berisi statistik dan metode-metode terbaik dalam pengembangan 5G.

"Untuk bisa mempertahankan posisi AS sebagai pemimpin dalam teknologi komunikasi mobile, para operator, vendor teknologi, inovator OTT, dan regulator harus berkolaborasi untuk mengembangkan kasus bisnis yang kuat untuk 5G," kata Dan Littmann, Deloitte Consulting Principal in Tech.

"Biaya dan waktu pengembangan infrastruktur jaringan yang memadai memiliki peran penting agar AS bisa menyusul negara-negara lain yang ingin menjadi negara pertama yang menggunakan 5G."



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.