Binance kembali membuka penarikan 15 cryptocurrency setelah peretasan US$6,3 miliar dan mengklaim telah mengganti 95% aset yang dicuri.
Binance kembali membuka penarikan 15 cryptocurrency setelah peretasan US$6,3 miliar dan mengklaim telah mengganti 95% aset yang dicuri.

Binance Buka Kembali Penarikan Usai Peretasan USD6,3 Miliar

Lufthi Anggraeni • 02 November 2026 12:58
Ringkasnya gini..
  • Binance membuka kembali penarikan 15 cryptocurrency secara bertahap pada tanggal 1 November 2026.
  • Binance mengklaim telah mengganti 95% dari USD6,3 miliar aset kripto yang dicuri menggunakan dana perusahaan.
  • Pengguna menarik USD3,64 miliar setelah layanan dibuka, sementara FBI mengaitkan serangan dengan kelompok TraderTraitor.
Jakarta: Binance mulai membuka kembali layanan penarikan aset kripto secara bertahap pada 1 November 2026, setelah menghentikan sejumlah transaksi menyusul pencurian aset digital senilai USD6,3 miliar (Rp114,4 triliun). 

Mengutip Digital Trends, bursa cryptocurrency tersebut mengklaim telah mengganti sekitar 95% aset yang dicuri menggunakan dana perusahaan dan sejumlah dana cadangan. Pembukaan kembali layanan ini menjadi langkah penting setelah Binance menghentikan penarikan pada sejumlah jaringan blockchain sejak insiden keamanan terjadi pada tanggal 29 Oktober 2026. 

Namun, pemulihan layanan justru diikuti lonjakan penarikan dana oleh pengguna yang ingin memindahkan aset mereka dari platform tersebut. Binance dilaporkan mulai mengizinkan penarikan untuk 15 jenis cryptocurrency dalam tahap awal. 

Daftar tersebut mencakup Bitcoin, Ether, Dogecoin, serta sejumlah stablecoin USDC dan USDT. Binance menyatakan pembukaan kembali dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat permintaan pengguna selama sepekan terakhir. Perusahaan juga mengklaim bahwa lonjakan awal penarikan mulai mereda.
 
Golden Bitcoin Coin Against Neon Trading Chart
 

Binance Buka Penarikan untuk 15 Cryptocurrency

Binance menerapkan pembukaan layanan penarikan secara bertahap berdasarkan jenis aset dan jaringan blockchain. Pada tahap pertama, perusahaan mengaktifkan penarikan untuk 15 cryptocurrency, termasuk Bitcoin, Ether, Dogecoin, serta sejumlah token stablecoin USDC dan USDT.

Kebijakan tersebut mempertimbangkan tingkat permintaan pengguna terhadap masing-masing aset selama sepekan terakhir. Dengan pendekatan ini, Binance memprioritaskan cryptocurrency yang paling banyak dibutuhkan pelanggan.

Pembukaan kembali secara bertahap dilakukan setelah perusahaan menghentikan penarikan pada sejumlah jaringan blockchain menyusul insiden pencurian aset. Serangan tersebut dilaporkan berlangsung sekitar 20 menit pada tanggal 29 Oktober 2026 dan menyebabkan aset digital senilai USD6,3 miliar (Rp114,4 triliun) keluar dari sistem Binance.

Penghentian layanan sebelumnya menjadi bagian dari langkah pengamanan untuk membatasi dampak insiden dan memberikan waktu bagi tim teknis melakukan pemeriksaan. Setelah proses penanganan berlangsung, Binance mulai memulihkan akses penarikan secara bertahap.

Meski demikian, pembukaan layanan belum berarti seluruh jaringan dan aset sudah kembali beroperasi normal. Binance masih menerapkan pendekatan bertahap sesuai kondisi masing-masing jaringan dan jenis cryptocurrency.

Binance Ganti 95% Aset Kripto yang Dicuri

Dalam pembaruan penanganan insiden, Binance menyatakan telah mengganti sekitar 95% dari total aset kripto senilai USD6,3 miliar (Rp114,4 triliun) yang dicuri. Perusahaan menggunakan dana dari Secure Asset Fund for Users (SAFU), Futures Insurance Fund, serta kas perusahaan untuk membeli kembali aset pengganti.

Sebagai informasi, SAFU merupakan dana perlindungan pengguna milik Binance yang sebelumnya memiliki cadangan Bitcoin senilai sekitar USD1 miliar (Rp18,1 triliun). Dana tersebut disiapkan untuk membantu melindungi pelanggan apabila terjadi insiden keamanan.

Binance juga memanfaatkan sebagian dana Futures Insurance Fund dan kas perusahaan untuk memenuhi kebutuhan penggantian aset. Perusahaan menyebut sisa 5% aset yang belum diganti terdiri atas cryptocurrency dengan likuiditas lebih rendah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk diperoleh dalam jumlah besar.

Penting untuk membedakan penggantian aset dengan pemulihan aset hasil pencurian. Klaim Binance mengenai penggantian 95% menunjukkan perusahaan telah menyediakan aset pengganti bagi pengguna. Namun, hal tersebut tidak berarti seluruh cryptocurrency asli yang dicuri sudah berhasil ditemukan atau direbut kembali dari pelaku.

Binance sebelumnya juga menyatakan akan menanggung dampak finansial insiden tersebut dan tidak membebankan kerugian kepada pengguna.

Pengguna Tarik Miliaran Dolar dari Binance

Pembukaan kembali layanan penarikan diikuti peningkatan aktivitas pemindahan dana oleh pelanggan. Pengguna Binance dilaporkan menarik sekitar USD3,64 miliar (Rp66,1 triliun) atau setara 2,1% dari total aset perusahaan hingga pukul 15.30 GMT pada tanggal 1 November 2026.

Sementara itu, platform analisis data cryptocurrency DefiLlama mencatat arus keluar bersih lebih dari USD3,5 miliar (Rp63,5 triliun) pada hari yang sama. Dalam pembaruan berikutnya, DefiLlama bahkan memperlihatkan angka arus keluar mencapai USD5,81 miliar (Rp105,4 triliun).

Binance mempertanyakan perhitungan DefiLlama tersebut. Juru bicara perusahaan menjelaskan bahwa data itu tidak memasukkan aliran dana yang dipindahkan Binance ke dompet hot wallet baru milik perusahaan. Karena itu, Binance menilai angka internalnya lebih mendekati kondisi sebenarnya.

Perusahaan juga menyatakan lonjakan penarikan pada awal pembukaan layanan mulai stabil. Di sisi lain, volume deposit pelanggan masih berada pada tingkat yang cukup besar. Besarnya arus keluar menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur tingkat kepercayaan pengguna terhadap Binance setelah insiden keamanan. 

Meskipun perusahaan menyatakan telah mengganti sebagian besar aset yang dicuri, pelanggan tetap memiliki kebebasan untuk memindahkan cryptocurrency mereka ke dompet pribadi atau platform lain. Sebagai informasi, Binance menyebut penarikan tersebut masih merupakan bagian kecil dari total aset yang dikelola perusahaan.
   

FBI Kaitkan Serangan dengan Kelompok Peretas Korea Utara

Perkembangan lain dalam kasus ini berkaitan dengan identitas pelaku. Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat menyatakan kelompok peretas yang disponsori negara Korea Utara bernama TraderTraitor bertanggung jawab atas serangan terhadap Binance.

Menurut FBI, kelompok tersebut telah mengonversi sebagian aset hasil pencurian menjadi Ether. Otoritas Amerika Serikat juga memperkirakan pelaku akan melanjutkan upaya pencucian aset melalui teknologi dan layanan terkait.

Perusahaan analisis blockchain sebelumnya juga mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok yang sama berdasarkan kemiripan pola dengan sejumlah insiden pencurian aset digital terdahulu. Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keterlibatan Korea Utara belum dapat dipastikan. 

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa atribusi serangan masih menjadi bagian dari perkembangan investigasi. Binance sebelumnya menjelaskan bahwa insiden tersebut melibatkan laptop yang telah disusupi serta software berbahaya yang dirancang untuk menghapus jejak aktivitas. Kondisi ini membuat proses pelacakan dan investigasi menjadi lebih rumit.

Binance Berupaya Memulihkan Kepercayaan Pengguna

Binance memiliki sekitar 335 juta pengguna terdaftar secara global. Perusahaan juga melaporkan total aset kelolaan mencapai USD171 miliar (Rp3.106,2 triliun) per tanggal 28 Oktober 2026. Dengan skala operasional tersebut, pemulihan layanan penarikan menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan setelah insiden keamanan bernilai miliaran dolar.

Kendati layanan mulai dibuka kembali, Binance masih harus menyelesaikan proses investigasi, memperkuat sistem keamanan, dan melanjutkan upaya pemulihan aset. Perusahaan teknologi finansial ini juga berencana menanggung kerugian finansial yang timbul dari insiden tersebut.

Pembukaan kembali penarikan menjadi perkembangan positif bagi pengguna yang sebelumnya tidak dapat memindahkan aset mereka. Namun, lonjakan penarikan miliaran dolar menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap platform masih menjadi tantangan setelah insiden besar tersebut.

Ke depan, kemampuan Binance menjaga stabilitas layanan dan transparansi penanganan insiden akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan kepercayaan pengguna terhadap salah satu bursa cryptocurrency terbesar di dunia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA