Peristiwa ini bermula setelah Binance mengumumkan sedang menyelidiki dugaan masalah keamanan pada platformnya. Kendati belum secara terbuka mengonfirmasi adanya peretasan, aktivitas transaksi mencurigakan tersebut mendorong sejumlah perusahaan kripto mengambil langkah untuk membatasi perpindahan dana.
Binance, bursa cryptocurrency terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan harian, menyampaikan bahwa timnya sedang memeriksa laporan mengenai potensi masalah keamanan. Perusahaan juga menegaskan bahwa dana pengguna berada dalam kondisi aman.
Juru bicara Binance mengatakan perusahaan mengetahui laporan mengenai kemungkinan insiden keamanan dan sedang melakukan investigasi secara aktif. Binance juga menyatakan akan memastikan keamanan dana pengguna.
Pendiri sekaligus mantan CEO Binance, Changpeng Zhao, turut memberikan tanggapan melalui platform X. Zhao menyebut insiden tersebut tampak seperti peretasan dan memperkirakan seluruh dana pelanggan akan tetap terlindungi. Saat ia ini tidak lagi menjalankan operasional perusahaan.
Binance juga mengumumkan penghentian sementara perdagangan pada platform Binance Alpha sebagai langkah antisipasi. Perusahaan kemudian menyampaikan bahwa nilai aset yang telah berhasil dibekukan mencapai USD2,54 miliar (Rp46,1 triliun).

Dugaan Peretasan Binance Libatkan Miliaran Dolar Aset
Dugaan insiden keamanan tersebut menjadi perhatian industri cryptocurrency setelah sejumlah transaksi mencurigakan terdeteksi pada jaringan blockchain. Perusahaan analisis blockchain Arkham Intelligence mengaitkan hampir USD6 miliar (Rp108,8 triliun) aset digital dengan 55 alamat dompet yang diduga berhubungan dengan insiden tersebut. Aset yang teridentifikasi mencakup Bitcoin, Ether, Solana, serta berbagai stablecoin.Arkham menganalisis transaksi yang tercatat secara publik di jaringan blockchain untuk mengidentifikasi dan melacak pergerakan aset digital. Perusahaan tersebut juga membuka kesempatan bagi komunitasnya untuk memberikan informasi terkait alamat dompet mencurigakan.
Meski demikian, nilai aset yang dikaitkan dengan alamat tersebut belum otomatis menunjukkan jumlah kerugian final Binance. Insiden ini juga memberikan tekanan terhadap pasar cryptocurrency. Harga Bitcoin turun lebih dari 3% hingga diperdagangkan di bawah USD80.000 (Rp1,5 miliar) setelah pernyataan dari sejumlah eksekutif perusahaan kripto beredar.
Ether turut melemah hampir 4%, sementara Solana mengalami penurunan sekitar 3%. Saham Circle juga terkoreksi sekitar 5% dalam perdagangan setelah jam bursa di Amerika Serikat. Reaksi pasar tersebut memperlihatkan kekhawatiran investor terhadap potensi dampak insiden keamanan pada perusahaan besar dalam industri aset digital.
Circle dan Tether Bekukan Lebih dari USD2,3 Miliar
Setelah dugaan insiden keamanan Binance mencuat, sejumlah perusahaan kripto mengambil langkah untuk menghentikan perpindahan aset yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut. Circle, perusahaan penerbit stablecoin USD Coin (USDC), mengumumkan telah membekukan lebih dari USD800 juta (Rp1,5 triliun) aset USDC yang dikaitkan dengan insiden tersebut.Selain itu, CEO Circle Jeremy Allaire menyampaikan bahwa perusahaan mengambil tindakan tersebut sembari berkoordinasi dengan pihak terkait dalam proses investigasi. Tether juga melakukan langkah serupa.
CEO Tether, Paolo Ardoino, menyatakan bahwa perusahaannya telah membekukan lebih dari USD1,5 miliar (Rp27,2 triliun) aset stablecoin yang diduga berkaitan dengan potensi pelanggaran keamanan Binance. Tether merupakan penerbit USDT, salah satu stablecoin terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.
Pembekuan tersebut menjadi bagian dari upaya membatasi pergerakan aset yang diduga berasal dari aktivitas tidak sah. Selain Circle dan Tether, Ripple juga dilaporkan membantu menghentikan perpindahan sekitar USD200 juta (Rp3,6 triliun) aset terkait dugaan serangan tersebut. Informasi tersebut disampaikan oleh Yi He, salah satu pendiri Binance.
Dengan tindakan sejumlah perusahaan tersebut, Binance melaporkan total aset yang berhasil dibekukan mencapai USD2,54 miliar (Rp46,1 triliun). Angka tersebut mencakup dana yang dibatasi pergerakannya oleh berbagai pihak dalam industri cryptocurrency.
Langkah pembekuan menjadi penting karena transaksi cryptocurrency dapat berpindah melalui berbagai alamat dompet dalam waktu singkat. Dengan menghentikan pergerakan aset tertentu, perusahaan terkait dapat membantu membatasi peluang dana berpindah lebih jauh selama proses investigasi berlangsung.
Namun, pembekuan aset tidak serta-merta berarti dana telah dikembalikan kepada pemiliknya. Proses selanjutnya tetap membutuhkan penelusuran transaksi dan koordinasi dengan pihak berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.
Industri Kripto Kembali Dihadapkan pada Ancaman Keamanan
Insiden yang melibatkan Binance menambah daftar kasus pencurian aset digital dalam industri cryptocurrency. Serangan terhadap bursa dan platform perdagangan kripto masih menjadi salah satu risiko utama bagi perusahaan maupun pengguna.Pada tahun 2025, Bybit mengalami pencurian aset digital senilai sekitar USD1,5 miliar. Sementara itu, Bitget juga melaporkan kehilangan aset kripto senilai lebih dari USD350 juta (Rp6,3 triliun) dalam insiden pencurian digital yang terjadi lebih baru.
Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa perusahaan pengelola aset digital menghadapi tantangan keamanan yang terus berkembang. Selain memperkuat infrastruktur, bursa kripto perlu memastikan sistem pengawasan transaksi dan mekanisme penanganan insiden berjalan efektif.
CEO Trace Finance Bernardo Brites menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut meningkatkan tantangan keamanan siber. Menurutnya, teknologi AI dapat membantu pelaku menemukan kerentanan sistem lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan perusahaan untuk memperbaikinya.
Brites juga memperkirakan insiden keamanan dapat memengaruhi kepercayaan pengguna terhadap bursa kripto, khususnya platform berukuran kecil dan menengah yang memiliki kemampuan lebih terbatas untuk menanggung kerugian besar.
Di sisi lain, Binance.US, entitas bursa terpisah dari Binance, menyatakan tidak terdampak oleh insiden tersebut. Coinbase juga menyampaikan bahwa platformnya tidak mengalami dampak langsung dan terus memantau perkembangan situasi.
Investigasi Binance Masih Berlangsung
Binance dilaporkan masih menyelidiki dugaan masalah keamanan dan belum memberikan konfirmasi terbuka mengenai penyebab maupun keseluruhan dampak insiden. Perusahaan menyatakan dana pengguna tetap aman.Sementara itu, tindakan pembekuan oleh Circle, Tether, Ripple, dan pihak lainnya menjadi bagian dari upaya industri untuk membatasi perpindahan aset yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut. Keberhasilan membekukan aset senilai USD2,54 miliar (Rp46,1 triliun) menjadi perkembangan penting dalam penanganan insiden.
Namun, besarnya aset yang dikaitkan dengan alamat dompet mencurigakan menunjukkan bahwa proses penelusuran masih membutuhkan perhatian lebih lanjut. Perkembangan kasus ini juga menjadi pengingat bahwa keamanan infrastruktur dan koordinasi antarpelaku industri memiliki peran penting dalam menjaga kepercayaan terhadap ekosistem cryptocurrency.