Laporan terbaru Salesforce, State of Service, Seventh Edition, memberikan peringatan keras bagi para Chief Information Officer (CIO) dan pemimpin bisnis. Laporan yang mensurvei 6.500 profesional layanan global ini mengungkap bahwa memiliki alat AI tercanggih sekalipun akan percuma jika data perusahaan masih terkurung dalam sistem yang tidak saling bicara.
Data menunjukkan realitas yang mengkhawatirkan di lapangan. Sebanyak 44% pemimpin layanan yang telah mengadopsi AI mengakui bahwa silo teknologi (sistem yang terpisah-pisah) telah secara langsung menunda atau membatasi inisiatif AI mereka. Alih-alih mempercepat operasional, AI justru tersendat karena tidak memiliki akses ke konteks data yang lengkap—seperti mencoba menyusun puzzle tanpa separuh kepingannya.
Fenomena ini terjadi karena AI, khususnya model generatif dan agen otonom, membutuhkan bahan bakar berupa data yang komprehensif untuk bekerja akurat. Jika data penjualan, layanan pelanggan, dan inventaris tersimpan di tiga aplikasi berbeda yang tidak terhubung, AI tidak bisa memberikan jawaban yang akurat atau mengambil tindakan yang tepat.
Laporan ini juga menemukan korelasi statistik yang kuat antara integrasi sistem dan keberhasilan proyek AI. Organisasi yang berhasil mengintegrasikan data layanan mereka dalam satu platform terpadu tercatat 1,4 kali lebih mungkin untuk menyatakan bahwa implementasi AI mereka sangat sukses dibandingkan dengan perusahaan yang membiarkan sistemnya berjalan masing-masing (silo).
Perbedaan tingkat kesuksesan ini sangat mencolok. Perusahaan dengan platform terpadu dapat memanfaatkan AI untuk memberikan personalisasi tingkat tinggi dan prediksi akurat, sementara perusahaan dengan data terpisah sering kali terjebak dalam masalah akurasi atau halusinasi AI karena data yang tidak lengkap.
Menyadari hambatan ini, terjadi pergeseran prioritas yang masif di kalangan eksekutif teknologi. Laporan mencatat bahwa 88% pemimpin layanan kini menyatakan mereka memprioritaskan integrasi teknologi secara agresif untuk mendukung inisiatif AI mereka. Integrasi bukan lagi sekadar tugas teknis di belakang layar, melainkan strategi bisnis fundamental.
Langkah ini menjadi semakin krusial dengan munculnya tren Agentic AI atau Agen AI yang otonom. Berbeda dengan chatbot biasa, Agen AI bertindak mandiri untuk menyelesaikan masalah pelanggan. Agar agen digital ini bisa dipercaya untuk melakukan transaksi atau perubahan data otonom, mereka mutlak memerlukan akses real-time ke kebenaran tunggal (single source of truth) data perusahaan.
Pesan dari laporan ini sangat jelas bagi pasar Indonesia yang sedang gencar melakukan transformasi digital: Jangan terburu-buru membeli hype AI sebelum membereskan pipa data. Investasi pada integrasi sistem mungkin tidak terdengar seksi seperti AI generatif, namun itulah fondasi yang menentukan apakah investasi teknologi akan menjadi aset strategis atau beban biaya yang sia-sia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News