Kendati menghadirkan fitur canggih yang dapat membantu banyak orang, penyalahgunaan AI berpotensi mengancam keamanan data, karena kerentanan soal kebocoran data penting saat pengguna memasukkan informasi sensitif ke dalam chatbot AI.
"Seiring berkembangnya kejahatan siber, banyak perusahaan yang melarang karyawannya menggunakan teknologi AI. Sebab, mereka khawatir data sensitif perusahaan akan dimasukkan ke dalam chatbot dan data tersebut dikhawatirkan akan dicuri," ujar Managing Director Trend Micro Singapura, Filipina dan Indonesia David Ng.
Sementara itu, Country Manager Trend Micro Indonesia Laksana Budiwiyono mengatakan mengatakan bahwa berbagai negara, khususnya Eropa, telah menerapkan aturan yang sangat ketat terkait keamanan data pengguna.
Lebih lanjut Laksana menjelaskan bahwa institusi atau perusahaan yang melanggar regulasi di Eropa ini akan dikenakan denda hingga empat persen dari total keuntungan dalam jangka waktu lama, dinilainya merupakan hal menakutkan bagi perusahaan.
Sementara itu, laporan dari Calibrating Expansion mencatat perkembangan ancaman di Asia Tenggara pada 2023. Laporan tersebut mengungkapkan peningkatan keseluruhan dalam deteksi ransomware di Asia Tenggara, lebih dari setengah atau 52 persen dari jumlahnya di dunia.
Sebagian besar berasal dari pendeteksian di Thailand, sedangkan pasar lain seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina dilaporkan mengalami penurunan terkait deteksi ransomware, juga serupa dengan tren global.
Laporan ini turut menyebut bahwa jumlah deteksi ransomware di Indonesia mengalami penurunan sebesar 58 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa pelaku siber kini lebih berhati-hati saat memilih target dan melancarkan aksinya.
Selain itu, temuan ini juga mengindikasikan bahwa pelaku siber semakin ahli dalam menembus lapisan deteksi awal. Kendati pelaku siber kini lebih berhati-hati melancarkan serangan, laporan ini mengungkap hanya sembilan persen perusahaan yang secara aktif mengawasi dan memantau kejahatan siber.
Hal ini menjadi bukti bahwa keamanan siber masih belum menjadi perhatian serius bagi banyak perusahaan. Laksana Budiwiyono berharap bahwa acara Resilience World Tour yang digelar Trend Micro ini meningkatkan kesadaran perusahaan di Indonesia untuk meningkatkan keamanan siber mereka.
Selain itu, Resilience World Tour sekaligus menjadi medium Trend Micro untuk memperkenalkan teknologi terbaru dari Trend Micro untuk solusi keamanan siber. Trend Micro menyelenggarakan Risk to Resilience World Tour 2024 di sejumlah kota di Asia Tenggara, termasuk di Jakarta.
Gelaran acara tahun ini mengusung tema Innovation Meets Adrenaline, menyoroti jalan menuju postur keamanan siber yang dimodernisasi, serta menyoroti pemberdayaan perusahaan untuk menghentikan pelaku kejahatan siber dengan cepat melalui strategi keamanan terpadu di seluruh lingkungan hybrid rumit.
Sebagai informasi, tur ini dimulai di Singapura pada tanggal 14 Mei 2024, kemudian berlanjut ke Filipina pada tanggal 16 Mei 2024, dan diselenggarakan di Indonesia pada tanggal 21 Mei 2024 lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News