Laporan terbaru dari McKinsey & Company, Agents for growth: Turning AI promise into impact, memperingatkan bahwa perubahan teknologi ini membawa tantangan eksistensial baru bagi identitas brand perusahaan. Laporan tersebut mengajukan pertanyaan provokatif yang akan segera dihadapi oleh para CEO: Ketika agen penjualan Anda bernegosiasi dengan agen pembelian pelanggan Anda, bagaimana perusahaan Anda akan membedakan dirinya?
Selama ini, kecepatan layanan dan akurasi eksekusi sering menjadi pembeda utama sebuah bisnis. Namun, di era Agentic AI, keunggulan tersebut terancam hilang. Laporan McKinsey menyoroti risiko bahwa eksekusi akan menjadi komoditas. Jika setiap pesaing memiliki agen cerdas yang mampu merespons dalam hitungan detik, mengoptimalkan harga secara real-time, dan memproses transaksi tanpa kesalahan, maka keunggulan operasional semata tidak lagi cukup untuk memenangkan pasar.
Jika eksekusi menjadi komoditas, apa yang akan diperjuangkan oleh merek Anda? demikian pertanyaan kritis yang dilontarkan dalam laporan tersebut. Keunggulan kompetitif di masa depan tidak akan bergantung pada seberapa banyak agen yang diluncurkan sebuah perusahaan, melainkan pada seberapa efektif mereka dirancang, dikelola, dan diskalakan.
Pergeseran ini mengubah secara mendasar ujian kepemimpinan bagi para eksekutif. Pertanyaan sentral bagi para pemimpin akan segera beralih dari sekadar aspek teknis—apa yang bisa dilakukan agen ini untuk kita—menjadi pertanyaan strategis tentang hasil dan peran manusia.
Para pemimpin harus bertanya: Hasil apa yang siap saya berikan dengan agen ini, dan bagaimana saya bisa memanfaatkan ruang waktu yang diciptakan agen untuk membiarkan manusia melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh manusia dengan lebih baik?
Hal ini menyiratkan bahwa nilai tambah manusia—seperti empati, kreativitas tingkat tinggi, dan negosiasi strategis yang kompleks—akan menjadi aset premium ketika tugas-tugas rutin diambil alih oleh negosiasi antar-bot.
Selain identitas merek, tantangan besar lainnya adalah masalah kontrol. Karena alur kerja agen AI dirancang untuk melintasi sekat-sekat departemen (silos), perusahaan menghadapi tantangan baru dalam memastikan akuntabilitas. Ketika keputusan harga, stok, dan promosi diambil secara otonom oleh jaringan agen yang saling terhubung, mekanisme pengawasan tradisional mungkin tidak lagi relevan.
McKinsey menyimpulkan bahwa organisasi yang lebih cepat menanamkan Agentic AI ke dalam operasi mereka adalah yang paling siap menjawab pertanyaan-pertanyaan besar ini. Masa depan di mana bot bernegosiasi dengan bot bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan realitas bisnis yang menuntut redefinisi strategi merek dan kepemimpinan mulai hari ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News