Berbeda dengan Generative AI konvensional, Agentic AI memiliki kemampuan yang lebih menakutkan: ia tidak hanya memberikan konten baru, tetapi juga mampu mengotomatisasi seluruh proses secara mandiri. Dalam konteks keamanan siber, teknologi ini dapat menjadi "senjata" yang sangat efektif bagi para peretas. Michael menganalogikan AI sebagai pedang bermata dua; di satu sisi membantu produktivitas, namun di sisi lain menjadi tulang punggung kejahatan terorganisir.
Salah satu ancaman nyata yang kini menghantui adalah Ransomware-as-a-Service berbasis AI. Melalui Agentic AI, penyedia layanan malware dapat dengan mudah meminta sistem untuk membuat skrip serangan, memilih target industri yang paling rentan, hingga menentukan waktu serangan yang paling tepat tanpa campur tangan manusia yang intens. Hal ini mengubah pola serangan siber di Indonesia.
Jika dahulu virus masuk melalui lampiran email (attachment), kini serangan lebih banyak mengandalkan metode social engineering. Pelaku memanfaatkan emosi dan psikologi korban melalui pesan-pesan yang mendesak untuk mengklik tautan tertentu. "Jaringan hanya menjadi medianya saja, tetapi target operasi utamanya adalah data," ujar Michael.
Di tengah ancaman yang semakin cerdas, perusahaan-perusahaan di Indonesia didorong untuk menjadi data-driven organization yang sadar akan keamanan data. Michael menekankan bahwa infrastruktur cerdas masa kini tidak hanya tentang pengelolaan data, tetapi juga kemampuan untuk mendeteksi pelanggaran secara real-time.
NetApp sendiri memperkenalkan teknologi Data Breach Detection yang mampu memberikan peringatan instan jika terdapat akses data berlebihan atau indikasi pencurian data oleh pihak internal maupun eksternal.
Sebagai benteng terakhir, perusahaan perlu menerapkan konsep Zero Trust berbasis data. Konsep ini memastikan bahwa data bersifat tamper-proof terhadap modifikasi pihak luar melalui prinsip Write Once, Read Many (WORM).
Namun, teknologi canggih saja tidak cukup. Michael menyoroti bahwa kesalahan terbesar perusahaan di Indonesia adalah kurang telitinya pengaturan hak akses data (role-based access). Seringkali, data penting diberikan akses kepada semua orang tanpa klasifikasi yang jelas.
Oleh karena itu, perubahan budaya organisasi melalui prinsip "never trust, always verify" menjadi krusial. Edukasi ini harus dimulai sejak awal karyawan bergabung agar mereka memahami bahwa integritas data adalah kunci keberlangsungan bisnis.
Di tahun 2026 ini, keputusan strategis pemimpin perusahaan bukan lagi soal seberapa canggih AI yang dimiliki. Indikatornya kini adalah seberapa aman data mereka terlindungi dari kecerdasan AI yang disalahgunakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News