Ilustrasi: MI/RAMDANI
Ilustrasi: MI/RAMDANI

Lenovo: Para Pekerja Sudah Siap WFH Sebelum Pandemi

Teknologi teknologi lenovo
Lufthi Anggraeni • 01 Mei 2020 11:25
Jakarta: Pemerintah Indonesia telah menerapkan langkah-langkah yang lebih ketat untuk mengurangi penyebaran virus korona, termasuk mengikuti kebijakan di seluruh dunia untuk mendorong sistem bekerja dari rumah sebagai salah satu upaya memperkuat pembatasan sosial.
 
Menurut survey terbaru Lenovo terkait dunia bisnis, karyawan mulai beradaptasi dengan sistem kerja ini, dibantu oleh teknologi cerdas yang menjaga karyawan tetap terhubung dan bisnis tetap berjalan.
 
“Survei kami menunjukkan bahwa pengalaman karyawan sudah berubah dari sebelum pandemi ini," kata Ronald Wong, General Manager Hong Kong dan Makau, Lenovo.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam 15 tahun terakhir, jumlah mereka yang bekerja secara rutin dari rumah telah tumbuh 159 persen di Amerika, dan hal yang sama juga terjadi di berbagai negara di Asia, termasuk di Indonesia.
 
Menurut survey yang dilakukan oleh Jakpat pada 18-21 Maret 2020 sebanyak 33 persen karyawan di Jabodetabek sudah memulai bekerja dari rumah, bahkan sebelum adanya ketentuan resmi dari Pemerintah.
 
Meskipun situasi saat ini berbeda, kami melihat keinginan para pekerja untuk beradaptasi dan mengadopsi pengaturan kerja yang fleksibel. "Ini menegaskan bahwa langkah tepat dalam investasi teknologi perusahaan, karena sekarang kebanyakan orang merasa produktif di rumah dan percaya bahwa tenaga kerja akan bergerak lebih ke arah ini setelah krisis berlalu."
 
Studi Lenovo, yang melihat sikap karyawan terhadap WFH di Tiongkok, Jepang, Jerman, Italia, dan Amerika, menemukan bahwa sebagian besar karyawan (87 persen) merasa siap untuk beralih ke WFH bila diperlukan. Sebagian besar sudah didorong (46 persen) atau diminta (26 persen) untuk WFH sebagai bagian dari langkah-langkah mitigasi Covid-19.
 
Selain itu, 77 persen berharap bahwa perusahaan akan mendorong atau setidaknya lebih terbuka untuk memperbolehkan karyawan bekerja secara remote di masa mendatang.
 
Terlebih kedepannya pada tahun 2025, diprediksi 75 persen pekerja akan terdiri dari generasi Milenial yang mempertimbangkan ketersediaan teknologi cerdas pada perusahaan dalam memilih pekerjaan.
 
'Kebutuhan mencari talenta' juga telah membuat organisasi memikirkan kembali ruang kerja, teknologi, dan budaya mereka untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik.
 
Sebuah studi global Harvard Business School 2018 terhadap 6.500 pemimpin bisnis menemukan bahwa lebih dari 60 persen memperkirakan bahwa ekspektasi karyawan untuk kerja fleksibel akan secara signifikan memengaruhi masa depan cara bekerja.
 
Sebuah perusahaan konsultan sumber daya manusia baru-baru ini mengungkapkan bahwa sebagian besar pengusaha masih merekrut karyawan, meskipun sudah mengantisipasi dampak dari pandemi Covid-19 ini.
 
Pada akhir Februari 2020, 44 persen responden mengatakan bahwa mereka telah menawarkan sistem kerja remote sebagai salah satu keuntungan bagi semua atau sebagian karyawan dan divisi tertentu.
 
“Pada saat semua perusahaan harus melalui masa penuh ketidakpastian dan harus terus menjalankan bisnis mereka, teknologi membuat mereka terus bergerak maju,” tambah Wong.
 
Dengan adanya pola kerja baru ini, investasi perangkat teknologi cerdas akan semakin dibutuhkan perusahaan guna mendukung WFH. Pemerintah juga telah melakukan pengembangan teknologi yang pesat di era digital, salah satunya dengan Peraturan Presiden (Perpres) No 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), yang didalamnya termasuk mengadaptasi sistem kerja WFH dengan memanfaatkan kanal-kanal digital.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif