Di Prancis, Waze Digunakan untuk Hindari Razia Polisi
Ilustrasi. (AP/Rich Pedroncelli)
Jakarta: Tidak semua orang merasa terbantu dengan aplikasi navigasi seperti Waze. Pemerintah Prancis adalah salah satu yang tidak menyukai aplikasi yang diandalkan untuk mencari jalan dan menembus kemacetan.

Dikutip dari CNET, pemerintah setempat di sebuah provinsi di Prancis mengajukan gugatan kepada aplikasi navigasi seperti Waze dan Coyotte untuk menghilangkan fitur yang memberikan kesempatan bagi penggunanya membagikan posisi polisi di sebuah jalan.

Seperti yang diketahui, aplikasi Waze sesama penggunanya bisa berbagai informasi mengenai kemacetan, kecelakaan maupun lokasi polisi yang ada di jalan. Justru fitur terakhir yang disebutkan tadi dianggap berbahaya.


Fakta di lapangan menurut kepolisian Prancis, banyak pengemudi yang menghindari polisi dengan alasan takut ditilang. Namun, bagi pihak kepolisian hal ini juga berbahaya karena menyulitkan mereka melakukan investigasi kriminal maupun melancarkan operasi antiteror.

Oleh sebab itu, kepolisian dan pemerintah Prancis meminta fitur tersebut dihilangkan. Di sisi lain sebenarnya fitur berbagai informasi lokasi polisi selama perjalanan juga memiliki hal positif berdasarkan penolakan yang dilontarkan organisasi otomotif 40 Million Motorist di Prancis.

Pengguna aplikasi bisa dengan mudah mengetahui lokasi polisi terdekat untuk meminta bantuan dalam keadaaan darurat.

Apabila pengemudi dibuntuti oleh kendaraaan tidak dikenal, mereka bisa langsung berkendara ke lokasi polisi dari pada menelpon kerabat atau menunggu kendaraan tersebut mendahuluinya.

Sejauh ini, pihak Waze maupun Coyote yang digugat sebesar USD34.000 (Rp495 juta) belum memberikan tanggapan. Selain denda, pemerintah juga mengajukan hukuman pidana berupa kurungan penjama selama dua tahun.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.