Ilustrasi: Opensignal
Ilustrasi: Opensignal

Starlink di Indonesia, Tantangan Menjembatani Kesenjangan Digital

Mohamad Mamduh • 09 November 2025 09:23
Jakarta: Kehadiran Starlink di Indonesia sejak Mei 2024 membawa harapan besar untuk mengatasi kesenjangan digital, terutama di wilayah pedesaan yang selama ini sulit dijangkau oleh jaringan fiber maupun 5G.
 
Namun, di balik janji menghadirkan internet cepat dan merata, muncul paradoks: biaya perangkat dan langganan yang tinggi membuat layanan ini tetap berada di luar jangkauan sebagian besar rumah tangga.
 
Data Opensignal menunjukkan bahwa hampir 60% pengguna Starlink berada di daerah pedesaan, jauh lebih tinggi dibandingkan layanan Fixed Wireless Access (FWA) yang hanya 24% dan telepon tetap yang hanya 7%. Kehadiran Starlink paling kuat di wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua, dengan infrastruktur fiber maupun FWA masih terbatas. Sebaliknya, FWA dan layanan telepon tetap lebih terkonsentrasi di perkotaan, khususnya di Jawa.

Kondisi ini menegaskan peran Starlink sebagai solusi pengisi kesenjangan konektivitas di daerah terpencil. Di banyak kabupaten pedesaan, masyarakat masih mengalami lebih dari 5% waktu tanpa sinyal seluler, sehingga satelit menjadi alternatif penting untuk akses internet.
 
Meski menawarkan solusi teknis, harga Starlink menjadi tantangan besar. Paket paling murah, Residensial Lite, dibanderol Rp479.000 per bulan (sekitar USD30), sementara paket reguler mencapai Rp750.000 (USD46) dan paket jelajah Rp1,64 juta (USD101). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata paket FWA yang berkisar Rp75.000–Rp300.000 per bulan.
 
Biaya perangkat keras juga tidak kalah memberatkan. Kit Starlink Mini dijual Rp4,75 juta (USD291), sedangkan kit standar Rp5,9 juta (USD362). Bahkan, karena lonjakan permintaan, harga bisa naik hingga Rp8–9,4 juta (USD490–574).
 
Bandingkan dengan router FWA dari Telkomsel, XL, atau IOH yang hanya Rp400.000–Rp600.000. Dengan rata-rata upah bulanan di Indonesia sekitar Rp3,09 juta (USD190), biaya Starlink setara seperenam hingga seperempat penghasilan, membuatnya sulit diakses oleh rumah tangga pedesaan.
 
Pada tahap awal, Starlink difokuskan untuk menghubungkan lebih dari 2.700 klinik kesehatan dan puskesmas di seluruh Indonesia. Pendekatan ini dinilai lebih hemat biaya per pengguna karena akses internet dibagi di lokasi komunitas. Bagi rumah tangga individu, harga tetap menjadi penghalang utama.
 
Sejauh ini, Starlink lebih berperan sebagai pelengkap, bukan pengganggu pasar. Layanan ini memperluas konektivitas di wilayah yang tidak terjangkau jaringan terestrial, tetapi keterjangkauan masih menjadi faktor penentu.
 
Pemerintah Indonesia sendiri telah mengalokasikan spektrum 1,4 GHz untuk mendukung layanan FWA yang lebih murah, dengan harga bulanan diperkirakan Rp100.000–Rp150.000. Langkah ini bisa menjadi pesaing serius bagi Starlink.
 
Meski demikian, ada harapan. Di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Zimbabwe, Starlink telah menurunkan harga kit maupun biaya langganan. Jika strategi serupa diterapkan di Indonesia, potensi untuk memperluas inklusi digital akan semakin besar.
 
Starlink berhasil membuka akses internet di daerah terpencil Indonesia, tetapi biaya tinggi membuatnya masih menjadi layanan premium. Keberhasilan jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menurunkan harga agar sesuai dengan daya beli masyarakat lokal.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan