DGX Spark dirancang untuk mendukung model open-source dengan kapasitas hingga 100 miliar parameter. Sementara itu, DGX Station hadir dengan kemampuan lebih tinggi, sanggup menjalankan model frontier hingga 1 triliun parameter. Keduanya dibangun di atas arsitektur Grace Blackwell, yang menawarkan performa AI setingkat petaflop serta memori terpadu berkapasitas besar.
Salah satu inovasi penting adalah dukungan format data NVFP4, yang mampu mengompresi model hingga 70 persen tanpa mengurangi kecerdasan inti. Teknologi ini memungkinkan pemuatan model lebih cepat dan efisiensi komputasi yang signifikan. NVIDIA juga berkolaborasi dengan komunitas open-source, seperti llama.cpp, untuk meningkatkan performa hingga 35 persen.
DGX Spark dan DGX Station mendukung berbagai model populer, termasuk NVIDIA Nemotron 3, Meta Llama 4 Maverick, Qwen3, DeepSeek-V3.2, serta Mistral Large 3. Tidak hanya itu, perangkat ini juga siap menjalankan model generatif visual seperti FLUX.2 dan LTX-2, yang relevan bagi kreator konten di bidang gambar maupun video.
Dalam hal kinerja, DGX Spark diklaim mampu mempercepat beban kerja video generasi baru hingga delapan kali lipat dibandingkan MacBook Pro M4 Max. Bagi pengembang, perangkat ini juga terintegrasi dengan CUDA coding assistant yang aman dan mendukung produktivitas melalui platform NVIDIA Nsight.
Adopsi industri pun mulai terlihat. Hugging Face memanfaatkan DGX Spark untuk menggerakkan robot embodied AI Reachy Mini, sementara IBM mengintegrasikannya dalam sistem OpenRAG. JetBrains menggunakan Spark untuk pengembangan perangkat lunak berbasis AI yang aman, dan startup TRINITY menjadikannya otak bagi kendaraan micromobility.
Produk ini tersedia melalui berbagai mitra global. DGX Spark sudah dapat dibeli dari Acer, ASUS, Dell, HP, Lenovo, hingga Amazon. Sedangkan DGX Station dijadwalkan meluncur pada musim semi 2026 melalui mitra seperti Supermicro dan MSI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News