Menurut Vony, saat ini adopsi kecerdasan buatan (AI) berkembang sangat cepat, namun di saat yang sama menghadirkan tantangan baru berupa kompleksitas teknologi dan keterbatasan infrastruktur, terutama pada sisi komputasi.
| Baca juga: Roadmap Nasional Jadi Fondasi Utama Tata Kelola AI di Indonesia |
“Semakin cepat teknologi AI berkembang, kompleksitas juga meningkat. Tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar mencoba AI, tetapi bagaimana membawanya ke tahap produksi secara aman dan dalam skala besar,” ujar Vony dalam ajang Red Hat Tech Day.
Ia menjelaskan, banyak organisasi kini mulai berinvestasi pada AI. Namun, tanpa kesiapan infrastruktur dan strategi yang tepat, peluang tersebut justru bisa membuat perusahaan tertinggal.
Ketergantungan GPU Jadi Tantangan Global
Salah satu tantangan utama dalam pengembangan AI adalah ketergantungan pada GPU tertentu. Selama ini, pasar accelerator didominasi oleh Nvidia, sementara pasokan global masih terbatas.“Supply chain GPU menjadi isu. Kalau terlalu bergantung pada satu vendor, itu berisiko terhadap keberlanjutan inovasi,” jelas Vony.
Untuk mengatasi hal tersebut, Red Hat mengusung pendekatan terbuka dengan membangun kolaborasi bersama berbagai penyedia teknologi seperti Intel dan AMD, serta pemain GPU lain di Asia.
Melalui pendekatan ini, organisasi tidak lagi terkunci pada satu pilihan teknologi. Mereka dapat memanfaatkan berbagai jenis GPU, baik di data center maupun cloud.
Vony menegaskan, fleksibilitas menjadi kunci dalam pengembangan AI. Red Hat mengusung strategi any model, any accelerator, any cloud agar perusahaan dapat mengembangkan AI tanpa batasan teknologi.
Platform AI yang dikembangkan Red Hat memungkinkan berbagai model AI dijalankan di berbagai jenis infrastruktur tanpa perlu melakukan perubahan besar pada sistem yang sudah ada.
“Customer tidak perlu mengganti investasi IT yang sudah dimiliki. Justru bagaimana investasi tersebut kita buat lebih cerdas dengan AI,” katanya.
Cloud Harus Dimanfaatkan Secara Cerdas
Selain isu GPU, Vony juga menyoroti kesalahpahaman umum dalam penggunaan cloud. Menurutnya, banyak organisasi masih mengadopsi pendekatan cloud-first tanpa mempertimbangkan nilai ekonominya.“Sekarang bukan lagi soal cloud-first, tapi cloud-smart. Kalau tidak mendapatkan skala ekonomi, sebenarnya tidak selalu worth it pindah ke cloud,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsep cloud seharusnya tidak dilihat dari lokasi, melainkan dari kapabilitas seperti kemampuan scaling dan fleksibilitas, bahkan jika sistem berjalan di on-premise.
Lebih lanjut, Vony menekankan open source menjadi fondasi penting dalam demokratisasi inovasi AI. Dengan pendekatan terbuka, teknologi dapat diakses lebih luas dan dikembangkan secara kolaboratif.
“Open source memungkinkan inovasi terjadi bersama-sama. Ini juga relevan untuk AI, di mana model berkembang sangat cepat di berbagai negara,” jelasnya.
Ia menyoroti saat ini pengembangan model AI tidak hanya didominasi oleh Amerika Serikat, tetapi juga mulai berkembang pesat di China dan Korea Selatan.
Dalam konteks Indonesia, Vony menilai potensi ekonomi digital nasional sangat besar. Bahkan, Indonesia diproyeksikan menyumbang hampir 40 persen dari ekonomi digital ASEAN pada 2030.
Karena itu, ia mendorong Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen teknologi AI.
“Kita punya potensi besar. Yang penting bagaimana kita membangun ekosistem yang terbuka, aman, dan berdaulat,” katanya.
Sebagai penutup, Vony menegaskan pentingnya menjadikan infrastruktur digital sebagai prioritas nasional. Ia menyoroti tiga pilar utama yang harus diperhatikan, yakni konektivitas, pertumbuhan, dan keamanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News