(ka-ki) Remus Lim, Senior Vice President Asia Pasifik dan Jepang Cloudera dan Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia Cloudera. Foto: Medcom.
(ka-ki) Remus Lim, Senior Vice President Asia Pasifik dan Jepang Cloudera dan Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia Cloudera. Foto: Medcom.

Sejauh Mana Agentic AI Bisa Ambil Alih Pekerjaan Manusia?

Fatha Annisa • 13 Januari 2026 19:11
Jakarta: Agentic AI mulai menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor. Hal ini karena di sejumlah negara, adopsi teknologi ini dikaitkan dengan efisiensi yang berdampak pada pengurangan tenaga kerja.
 
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Apakah kehadiran agentic AI akan menjadi tantangan serius bagi pekerja, atau justru membawa manfaat jangka panjang?
 
Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia Cloudera, menjelaskan bahwa agenitc AI memang mampu menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif dan terprogram. AI bisa bekerja lebih akurat karena tidak rentan terhadap kelelahan dan human error.
 
 
Baca juga: Cloudera Rilis Prediksi Tren AI 2026, Fondasi Data Jadi Penentu Utama

 
“Namun, saya tidak setuju jika dikatakan agentic AI menggantikan semua profesi. Masih ada pendekatan personalisasi yang lebih bersifat emosional. Hal ini belum sepenuhnya dapat diakses oleh sistem AI,” ujar Sherlie.
 
Remus Lim, Senior Vice President Asia Pasifik dan Jepang Cloudera, menambahkan bahwa dalam hal pengambilan keputusan, misalnya, AI dapat membantu mengonsolidasikan data, menyajikan analisis, dan memberikan rekomendasi awal. Meski begitu, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
 
Jika menilik sejarah, kekhawatiran serupa juga muncul ketika komputer dan otomatisasi pertama kali diperkenalkan. Saat itu, muncul pertanyaan apakah mesin akan mengambil alih peran manusia sepenuhnya. Nyatanya, yang terjadi justru evolusi keterampilan manusia.
 
Baca juga: Bahaya Nyata Bias AI: Ketika Algoritma Jadi Penentu Hidup dan Mati

 
“Otomatisasi dan tingkat kecerdasan buatan akan meningkat, dan kecerdasan manusia akan meningkat lebih jauh,” jelasnya.
 
Remus menegaskan AI tidak bisa menggantikan manusia, dan manusia juga tidak akan ingin digantikan oleh agentic AI. Menurutnya, organisasi-organisasi masih menyukai ada ‘sentuhan’ manusia.
 
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan