Ilustrasi: Salesforce
Ilustrasi: Salesforce

Mimpi Buruk CISO, Keamanan Siber Jadi Penghambat Nomor Satu Adopsi AI

Mohamad Mamduh • 26 Januari 2026 12:07
Jakarta: Di balik perlombaan global perusahaan untuk mengadopsi Kecerdasan Buatan (AI), terdapat rem darurat yang ditarik oleh para pemimpin teknologi: ketakutan akan keamanan siber.
 
Laporan terbaru Salesforce, State of Service, Seventh Edition, menyingkap fakta bahwa meskipun potensi AI sangat menggiurkan, risiko keamanan data telah menjadi penghalang utama yang memperlambat inovasi di banyak perusahaan.
 
Laporan yang mensurvei 6.500 profesional layanan di seluruh dunia ini menempatkan kekhawatiran keamanan sebagai tantangan nomor satu dalam mengimplementasikan AI, mengalahkan isu biaya ataupun kurangnya keahlian teknis.

Dampaknya sangat nyata di lapangan: lebih dari separuh (51%) pemimpin layanan mengakui bahwa inisiatif AI di perusahaan mereka terpaksa ditunda atau dibatasi ruang lingkupnya akibat kekhawatiran ini.
 
Kecemasan ini bukan tanpa alasan. Seiring dengan semakin canggihnya teknologi, metode serangan siber pun berevolusi. Laporan tersebut menyoroti bahwa ancaman kini berkisar dari keracunan data (data poisoning)—di mana data pelatihan AI dimanipulasi untuk menghasilkan output yang salah—hingga pembobolan infrastruktur cloud yang kompleks.
 
Situasi ini menciptakan paradoks ketika AI menjadi solusi sekaligus ancaman. Data statistik dari laporan tersebut melukiskan masa depan yang menegangkan bagi para Chief Information Security Officer (CISO): 75% pemimpin keamanan IT percaya bahwa ancaman siber yang digerakkan oleh AI akan segera melampaui kemampuan pertahanan keamanan tradisional. Artinya, tembok api (firewall) lama mungkin tidak lagi cukup untuk menahan serangan yang dirancang oleh mesin cerdas.
 
Dalam era data pelanggan adalah aset paling berharga, kepercayaan menjadi mata uang utama. Perusahaan menyadari bahwa satu insiden kebocoran data akibat kecerobohan penerapan AI dapat menghancurkan reputasi mereka dalam sekejap.
 
Oleh karena itu, prioritas anggaran perusahaan pun bergeser drastis. Laporan Salesforce mencatat bahwa 86% pemimpin layanan menyatakan bersedia membayar lebih mahal untuk teknologi yang menjamin keamanan data.
 
Mereka juga bersedia membayar premium yang sama untuk keandalan teknologi. Hal ini menandakan bahwa pasar kini lebih menghargai vendor teknologi yang menawarkan arsitektur keamanan yang kuat (Trust layer) dibandingkan sekadar fitur AI yang canggih namun rentan.
 
Tantangan keamanan ini diprediksi tidak akan memudar dalam waktu dekat, terutama dengan munculnya Agentic AI atau agen otonom yang dapat mengambil tindakan mandiri dalam sistem perusahaan.
 
Memberikan otonomi kepada AI untuk mengakses data sensitif dan melakukan transaksi membutuhkan tingkat keamanan berlapis yang jauh lebih ketat daripada sistem konvensional.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan