Mereka mengklaim bahwa hasil riset menunjukan jumlah konsumen (shopper) yang kembali ke toko kini sudah sama seperti masa sebelum pandemi. Para konsumen itu juga semakin terbiasa menggunakan layanan mandiri karena semakin sering menggunakan teknologi do-it-yourself (DIY) di toko.
Oleh karena itu, staf toko kini punya lebih banyak waktu untuk membantu para konsumen. Survei ini dilakukan antara bulan Juni dan Juli 2022, dengan mengumpulkan masukan dari lebih dari 4.000 pembuat keputusan di industri ritel, staf toko, dan konsumen di seluruh dunia.
Hasil studi mengklaim hampir 75 persen konsumen di dunia (68 persen di Asia Pasifik) mengatakan bahwa inflasi membuat mereka harus menunda pembelian, tapi mereka masih kembali ke toko.
Kebanyakan dari konsumen (76 persen di dunia, 68 persen di Asia Pasifik) ingin masuk dan keluar toko secepat mungkin. Mereka juga ingin mewujudkan hal itu karena semakin suka dengan teknologi layanan mandiri.
Secara global, interaksi konsumen dalam berbagai solusi layanan mandiri terus meningkat dengan hampir setengah dari konsumen menyebutkan bahwa mereka sudah pernah menggunakan layanan self-checkout, dan hampir empat dari 10 sudah menggunakan metode pembayaran nontunai.
Sebanyak 43 persen konsumen di dunia (50 persen di Asia Pasifik) yang disurvei mengatakan lebih memilih membayar dengan perangkat seluler atau smartphone. Lebih dari setengah (50 persen di dunia, 48 persen di Asia Pasifik) lebih memilih layanan self-checkout, sementara yang lebih memilih di kasir yang dilayani staf toko menurun (55 persen di dunia, 51 persen di Asia Pasifik).
Riset Zebra menemukan layanan kasir menjadi semakin kurang dibutuhkan dengan adanya
teknologi otomatisasi. Di seluruh dunia, hampir setengah dari pengusaha ritel sedang menyiapkan toko mereka, dengan mengubah area kasir tradisional menjadi area check-out dengan layanan mandiri dan nirsentuh.
Konsumen dinilai mengharapkan pengalaman yang mulus, bagaimanapun cara mereka berbelanja. Tujuh dari 10 lebih memilih berbelanja baik di toko maupun secara online, serta lebih memilih pengusaha ritel online yang juga punya toko fisik.’
Kebanyakan konsumen lebih menyukai opsi barang diantar, dan memilih bisnis ritel yang menawarkan pengambilan di toko atau curbside pick-up. Hampir setengah dari pengusaha ritel yang mengikuti survei mengubah ruangan di toko mereka untuk menyediakan area pengambilan pesanan.
“Dengan e-commerce yang kian normal saat ini, channel-channel yang ada telah menyatu sehingga penting bagi pengusaha retail untuk memastikan hadirnya pengalaman belanja yang mulus di seluruh platform offline dan online mereka,” kata George Pepes, APAC Vertical Solutions Lead for Retail and Healthcare, Zebra Technologies.
“Yang lebih penting lagi, mereka harus memberdayakan para staf toko dengan teknologi yang tepat, sehingga mereka dapat menjalankan tugas dengan lebih baik, ketika sektor retail bergerak menuju masa depan pemenuhan pesanan masa depan,” sambungnya.
Eric Ananda, Country Manager Indonesia Zebra Technologies melihat pengusaha ritel harus memperkuat high value yang diberikan oleh staf toko, dan melengkapi mereka dengan teknologi dan proses yang tepat untuk menjalankan operasional omnichannel yang terus berkembang.
“Saat pengusaha ritel melihat ke masa depan, penting bagi mereka untuk menggunakan otomatisasi cerdas dan menggandakan dukungan pada staf toko mereka demi menyenangkan konsumen dan memenuhi permintaan mereka secara efektif,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News