"Pemasar harus dapat merasa yakin dengan data mereka. Keputusan strategis berbasis data sulit diambil tanpa informasi yang jelas. Intinya, penipuan masih dan akan terus menjadi tantangan yang kita hadapi dalam industri," ujar Director of Fraud Prevention Adjust Andreas Naumann.
"Akan tetapi, dengan menggunakan alat yang tepat, kita bisa selangkah lebih maju dari para penipu dan memastikan bahwa kita tetap memprioritaskan transparansi."
Hasil penelitian ini juga mengungkap bahwa penipu tidak hanya memalsukan instalasi berbayar, juga lalu lintas organik untuk menyembunyikan instalasi berbayar yang mereka curi. Dan dua per tiga dari 200 juta instalasi yang ditolak merupakan instalasi organik, dan hanya sepertiganya merupakan instalasi berbayar.
Secara teknis pemasar seluler mungkin tidak kehilangan uang dari tindakan ini, namun instalasi organik palsu tersebut dinilai Adjust dapat merusak integritas data dan informasi yang seharusnya dapat dikumpulkan oleh pemasar dari kegiatan pemasaran.
Adjust menyebut bahwa data yang dihimpunnya untuk kategori game menunjukkan bahwa secara global tingkat penipuan meningkat sebesar 172,95 persen antara bulan Agustus 2019 hingga bulan Agustus 2020.
Data ini juga menunjukan bahwa terdapat kenaikan tingkat penipuan di wilayah Eropa, Timur Tengah dan Afrika (EMEA), mencapai 181,20 persen, sedangkan di Amerika Serikat (AS) sebesar 310,29 persen, dan Asia Pasifik (APAC) sebesar 214,86 persen.
Adjust juga menyebut bahwa penipuan iklan adalah masalah global dan penipu bekerja secara aktif di hampir semua negara. Adjust mengklaim pihaknya berupaya untuk mengidentifikasi metode penipuan terbanyak digunakan dalam ekosistem iklan seluler.
Berdasarkan penelitiannya, data Adjust menunjukkan bahwa pengguna palsu atau bot terus mendominasi sebagai jenis penipuan paling sering digunakan. Penipuan dengan metode ini setara dengan 68,7 persen dari kegiatan penipuan di AS, 65,6 persen di Tiongkok, 60,7 persen di Jepang dan 47 persen di EMEA.
Data Adjust juga menampilkan bahwa Spoofing SDK masih mendominasi di Amerika Latin, dengan persentase sebesar 51,16 persen. Selain itu, Data Adjust menunjukkan bahwa SDK Spoofing paling banyak terjadi pada aplikasi Makanan & Minuman sebesar 59,7 persen dan aplikasi Bisnis sebesar 34,9 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News