Ilustrasi.
Ilustrasi.

Data Center Diprediksi Serap 70% Produksi Chip Memori Global pada 2026

Cahyandaru Kuncorojati • 19 Januari 2026 10:00
Jakarta: Lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan mengubah peta pasokan chip memori global. Laporan terbaru menyebutkan, hingga 70 persen produksi chip memori dunia pada 2026 akan terserap oleh data center, memicu risiko kelangkaan komponen yang berpotensi merembet ke berbagai sektor industri lain.
 
Dikutip dari situs Tom’s Hardware, perhatian terhadap prediksi ini menguat setelah laporan dari Wall Street Journal mengulas dampak serius dari meningkatnya permintaan memori untuk kebutuhan AI. 
 
Tekanan pasokan tersebut tidak hanya memengaruhi industri komputasi, tetapi juga sektor otomotif, televisi, dan perangkat elektronik konsumen.

Menurut laporan tersebut, kelangkaan memori berpotensi menimbulkan efek domino yang mengingatkan pada gangguan produksi saat pandemi Covid-19. Industri otomotif disebut sebagai salah satu sektor yang paling rentan terdampak, meski kendaraan umumnya menggunakan jenis memori lama.
 
Masalahnya, produsen chip memori telah mengurangi bahkan menghentikan produksi chip generasi lama, seiring pergeseran kapasitas manufaktur ke segmen AI dan data center. Akibatnya, sektor yang tidak berhubungan langsung dengan komputasi canggih tetap menghadapi kesulitan pasokan.
 
Analis dari Counterpoint Research, Hwang, menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi darurat. Ia menyebut kapasitas manufaktur untuk tahun 2028 bahkan sudah mulai dialokasikan sejak sekarang, menunjukkan betapa ketatnya persaingan mendapatkan pasokan memori.
 

Harga Elektronik Berisiko Naik Tajam

Kelangkaan chip memori berpotensi berdampak langsung pada harga perangkat elektronik sehari-hari. Televisi, speaker Bluetooth, set-top box, hingga peralatan rumah tangga pintar seperti kulkas diperkirakan akan mengalami kenaikan harga, mengingat memori merupakan komponen penting dengan margin keuntungan yang relatif tipis.
 
Dalam kondisi ekstrem, biaya chip memori disebut bisa menyumbang hingga 10 persen dari harga perangkat elektronik, dan bahkan mencapai 30 persen dari total biaya produksi smartphone. 
 
Jika harga komponen terus meningkat, produsen tidak memiliki banyak pilihan selain meneruskan beban biaya kepada konsumen jika pasokan masih tersedia.
 
Tekanan pasokan ini juga tercermin dalam proyeksi pasar global. IDC telah merevisi prakiraan tahun 2026 dengan memperkirakan penurunan penjualan smartphone sebesar 5 persen dan pasar PC turun hingga 9 persen. IDC menilai kondisi saat ini sebagai pergeseran permanen kapasitas pemasok ke arah data center berbasis AI.
 
Pandangan serupa disampaikan analis dari TrendForce, Avril Wu. Ia menyebut situasi pasar memori kali ini sebagai yang paling ekstrem sepanjang hampir dua dekade pengamatannya, menandakan perubahan struktural yang tidak bersifat sementara.
 
Dengan dominasi kebutuhan AI yang semakin kuat, kelangkaan chip memori diperkirakan akan menjadi tantangan lintas industri dalam beberapa tahun ke depan, sekaligus menguji ketahanan rantai pasok global di luar sektor teknologi tinggi.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan