Satu hal yang menarik adalah sang penerima telepon tampaknya tidak sadar bahwa dia sedang berbicara dengan sebuah AI (kecerdasan buatan).
Ini menunjukkan betapa canggihnya teknologi yang Google kembangkan. Pada saat yang sama, ini memunculkan banyak pertanyaan etis terkait AI dan efeknya pada kehidupan sosial manusia.
Melalui blog post, Google menjelaskan bahwa fitur bernama Duplex pada Assistant tidak membuat asisten virtual itu bisa menjawab pertanyaan terbuka.
Assistant tetap hanya bisa menjawab pertanyaan "tertutup", seperti "Berapa banyak meja yang ingin Anda pesan? Pada hari apa? Pada pukul berapa?"
Associate Professor of AI di Georgia Tech, Mark Riedl menjelaskan bahwa Google Assistant kemungkinan akan bekerja "dengan cukup baik" tapi hanya pada situasi tertentu.
"Menjawab pembicaraan yang di luar konteks akan menjadi masalah," katanya pada The Verge. "Namun, ada banyak cara untuk menyembunyikan fakta bahwa AI tidak mengerti pembicaraan atau membawa pembicaraan ke hal-hal yang ia mengerti."
Dalam sebuah wawancara dengan CNET, Google mengaku bahwa mereka ingin membuat AI yang transparan, artinya, lawan bicara AI tahu kalau dia tidak sedang berbicara dengan manusia. Pada saat yang sama, mereka sengaja membuat Assistant menyerupai manusia.
Google tidak hanya membuat Assistant tidak lagi terdengar layaknya robot, mereka juga membuat Assistant memiliki kebiasaan yang biasanya dimiliki manusia, seperti penggunaan "um" dan "uh".
Keputusan Google untuk membuat Assistant semakin menyerupai manusia menimbulkan pertanyaan etis seperti apakah dampak keberadaan AI yang bisa berbicara layaknya manusia?
Sekarang, kita sudah kesulitan untuk membedakan berita asli dengan hoaks atau memastikan sebuah gambar adalah gambar asli.
Jika Google sukses membuat AI yang bisa berbicara layaknya manusia, tidak tertutup kemungkinan, di masa depan, kita akan kesulitan untuk membedakan apakah kita berbicara dengan manusia atau AI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News