Laporan terbaru McKinsey & Company, Agents for growth: Turning AI promise into impact, memberikan jawaban tegas. Masa eksperimen spekulatif mulai berakhir, digantikan oleh bukti finansial yang kuat dari penerapan Agentic AI (AI Agen). Laporan tersebut mengungkapkan bahwa perusahaan yang bergerak dari sekadar uji coba ke penerapan agen cerdas kini mulai memetik hasil ekonomi yang signifikan.
Realitas di lapangan selama ini memang cukup menantang. McKinsey mencatat bahwa sebagian besar organisasi belum menyadari nilai yang berarti dari AI secara umum. Faktanya, hampir delapan dari sepuluh perusahaan melaporkan tidak ada keuntungan bottom-line (laba bersih) yang signifikan dari inisiatif AI mereka.
Kegagalan ini sebagian besar disebabkan oleh kendala struktural, seperti program percontohan yang terfragmentasi, kualitas data yang lemah, dan fondasi tata kelola yang tidak memadai. Banyak perusahaan terjebak dalam penggunaan alat bantu AI sederhana yang tidak terintegrasi dengan inti bisnis mereka.
Namun, narasi ini berubah bagi para pemimpin awal yang mengadopsi Agentic AI—sistem yang tidak hanya menjawab pertanyaan tetapi juga bertindak dan memutuskan. Analisis McKinsey menunjukkan bahwa penerapan agen AI yang efektif dan berskala besar dapat memberikan peningkatan produktivitas sebesar tiga hingga lima persen setiap tahunnya. Lebih jauh lagi, teknologi ini berpotensi mengangkat pertumbuhan bisnis (growth lift) sebesar 10 persen atau lebih.
Kecepatan operasional menjadi salah satu indikator ROI yang paling terlihat. Beberapa perusahaan Fortune 250 memperkirakan percepatan pembuatan dan eksekusi kampanye pemasaran hingga 15 kali lipat. Percepatan ini didorong oleh siklus inovasi yang lebih singkat dan optimalisasi proses yang dilakukan oleh agen otonom.
Laporan tersebut menyoroti bukti nyata dari berbagai industri. Sebuah perusahaan asuransi Eropa, misalnya, mendesain ulang operasi penjualannya dengan agen AI yang mempersonalisasi kampanye ke ratusan segmen mikro. Hasil finansialnya sangat konkret: tingkat konversi penjualan meningkat dua hingga tiga kali lipat, sementara waktu panggilan layanan pelanggan berkurang 25 persen.
Di sektor penerbangan, sebuah maskapai AS menggunakan wawasan prediktif berbasis agen untuk menangani kompensasi gangguan penerbangan bagi pelanggan bernilai tinggi. Dampak ekonominya langsung terasa dengan peningkatan 210 persen dalam penargetan pelanggan berisiko dan penurunan tingkat churn (pelanggan yang beralih) sebesar 59 persen di kalangan pelancong premium.
Pesan utama bagi para pemimpin bisnis adalah bahwa nilai ekonomi terbesar tidak datang dari sekadar membeli alat AI, melainkan dari desain ulang alur kerja. McKinsey memperkirakan bahwa Agentic AI akan menyumbang lebih dari 60 persen dari peningkatan nilai yang dihasilkan AI dalam fungsi pemasaran dan penjualan.
Keunggulan kompetitif di masa depan tidak akan bergantung pada seberapa banyak agen yang diluncurkan sebuah perusahaan, tetapi pada seberapa efektif agen tersebut dirancang, dikelola, dan diskalakan untuk memecahkan masalah bisnis yang spesifik. Dengan data ini, argumen bisnis untuk mengadopsi Agentic AI kini bukan lagi soal jika, melainkan seberapa cepat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News