Ilustrasi: Visa
Ilustrasi: Visa

Era Industrialisasi Penipuan: AI Sulap Penjahat Siber Jadi 'Startup' Global

Mohamad Mamduh • 06 Februari 2026 17:08
Ringkasnya gini..
  • Salah satu temuan paling mencolok dalam laporan tersebut adalah lonjakan penggunaan AI Agent di forum-forum bawah tanah siber.
  • Visa melaporkan bahwa pihaknya telah menginvestasikan lebih dari USD12 miliar dalam lima tahun terakhir untuk memperkuat teknologi deteksi.
  • Di tahun 2026, keamanan menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan pada ekonomi digital global.
Jakarta: Lanskap keamanan pembayaran global sedang menghadapi pergeseran paradigma yang mengkhawatirkan. Menurut laporan Biannual Threats Report terbaru dari Visa, penipuan digital kini bukan lagi sekadar aksi individu atau kelompok amatir, melainkan telah berevolusi menjadi sebuah industri yang sistematis, sangat terorganisir, dan didorong oleh kecerdasan buatan (AI).
 
Fenomena yang disebut sebagai "Industrialisasi Penipuan" ini menunjukkan bagaimana pelaku kriminal mengadopsi model bisnis perusahaan rintisan (startup) teknologi untuk meningkatkan skala dan efisiensi serangan mereka.
 
Salah satu temuan paling mencolok dalam laporan tersebut adalah lonjakan penggunaan AI Agent di forum-forum bawah tanah siber. Visa mencatat kenaikan luar biasa sebesar 477% dalam diskusi dan penyebaran alat berbasis AI yang dirancang khusus untuk memfasilitasi penipuan.

Berbeda dengan serangan tradisional yang memerlukan interaksi manual, agen AI ini memungkinkan penjahat untuk mengotomatisasi proses rekayasa sosial (social engineering). Mereka dapat mengirimkan ribuan pesan penipuan yang dipersonalisasi, membangun percakapan yang meyakinkan dengan korban, hingga melakukan ekstraksi data secara massal tanpa henti selama 24 jam sehari.
 
"Penjahat kini beroperasi dengan efisiensi yang menyaingi perusahaan teknologi legal," tulis laporan tersebut. Mereka membangun infrastruktur yang dapat digunakan kembali, mulai dari botnet hingga identitas sintetis yang dihasilkan oleh AI untuk mengelabui sistem verifikasi.
 
Industrialisasi ini juga terlihat dari bagaimana data pribadi dikelola. Data curian tidak lagi langsung dibuang; mereka dikelola sebagai aset berharga. Visa mencatat lonjakan kasus akun yang dipulihkan (recovered accounts) sebesar 220%.
 
Para penjahat menggunakan data dari kebocoran massal untuk menciptakan "identitas sintetis"—penggabungan informasi nyata dan palsu—untuk membuka akun baru atau mengambil alih akun lama. Dengan bantuan AI, identitas-identitas ini terlihat sangat valid bagi sistem keamanan perbankan yang masih mengandalkan parameter statis.
 
Perubahan ini menciptakan tekanan besar bagi institusi keuangan dan pedagang (merchants). Ketika penipuan telah terindustrialisasi, pertahanan tradisional yang bersifat reaktif tidak lagi memadai. Skala serangan yang begitu masif berarti satu celah kecil pada sistem pihak ketiga dapat dieksploitasi dalam hitungan detik untuk menyerang jutaan pengguna sekaligus.
 
Visa melaporkan bahwa pihaknya telah menginvestasikan lebih dari USD12 miliar dalam lima tahun terakhir untuk memperkuat teknologi deteksi. Penggunaan pembelajaran mesin (machine learning) kini menjadi garda terdepan untuk membedakan antara transaksi manusia yang sah dengan aktivitas botnet yang terorganisir.
 
Industrialisasi penipuan berarti ancaman siber kini lebih murah, lebih cepat, dan lebih sulit dideteksi daripada sebelumnya. Bagi konsumen, ini adalah peringatan bahwa serangan digital tidak lagi terlihat kasar atau penuh salah ketik. Di balik layar, ada mesin AI canggih yang bekerja layaknya perusahaan profesional untuk mencari celah dalam setiap transaksi.
 
Dalam menghadapi kekuatan baru ini, kolaborasi antara penyedia layanan pembayaran, regulator, dan kesadaran pengguna menjadi kunci utama. Di tahun 2026, keamanan menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan pada ekonomi digital global.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA