Facebook dilaporkan mulai menguji fitur enkripsi end-to-end sebagai pengaturan default di Messenger.
Facebook dilaporkan mulai menguji fitur enkripsi end-to-end sebagai pengaturan default di Messenger.

Facebook Mulai Uji Enkripsi End-to-End Default di Messenger

Lufthi Anggraeni • 12 Agustus 2022 16:10
Jakarta: Facebook telah membagikan update terkait rencananya untuk mengaktifkan end-to-end encryption (E2EE) secara default pada platform chat Messenger karyanya, menyebut pihaknya telah mulai menguji fitur untuk chat antara beberapa pihak pada pekan ini.
 
Mengutip The Verge, Facebook saat ini menawarkan pengguna Messenger opsi untuk mengaktifkan E2EE pada basis per-chat, namun skema opsi ini secara umum hanya dapat dimanfaatkan oleh pengguna yang lebih perhatian terhadap keamanan.
 
Menjadikan enkripsi end-to-end sebagai pengaturan default dinilai sejumlah pihak akan menjadi langkah besar bagi Facebook, dengan menambahkan lapisan substansial dari keamanan pada platform percakapan yang digunakan oleh lebih dari satu miliar pengguna di seluruh dunia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Langkah ini juga memicu argumentasi dengan pemerintah yang menyebut bahwa E2EE menghalangi kemampuan mereka untuk memerangi kejahatan. Enkripsi end-to-end artinya Facebook tidak dapat melihat konten dari pesan pengguna, dan hanya dapat dilihat oleh partisipan percakapan.
 
Hal ini dinilai mempersulit, meski tidak mustahil, bagi pihak ketiga seperti peretas atau pihak ketiga untuk mengintip pada percakapan digital. Dalam beberapa tahun terakhir, induk perusahaan Facebook, Meta, perlahan menambahkan lebih banyak lapisan enkripsi ke berbagai platform miliknya, namun upaya ini belum terpadu.
 
Chat di WhatsApp dienkripsi secara default menggunakan protokol yang sama yang ditawarkan oleh layanan pesan aman standar industri Signal, sedangkan enkripsi opt-in untuk DM Instagram saat ini tengah diuji, dan Messenger menawarkan E2EE via fitur Disappearing Messages.
 
Sebagai pengingat, Messenger sebelumnya menawarkan mode hilang serupa, namun saat ini telah dihapus. Facebook telah dikritik karena tidak menjadikan E2EE sebagai pengaturan default di Messenger, terutama setelah kasus Roe v. Wade di Amerika Serikat, dengan jejak digital seperti aplikasi chat akan digunakan sebagai bukti dalam kasus kriminalisasi aborsi.
 
Facebook sebelumnya menyebut secara perlahan menjadikan E2EE sebagai pengaturan default pada seluruh platform chat miliknya karena kesulitan mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam aplikasi yang digunakan oleh miliaran pengguna dan kebutuhan untuk menyeimbangkan privasi pengguna dengan keamanan.
 
Pada update ini, Facebook menegaskan kembali bahwa tengah menjalankan rencananya dalam menjadikan E2EE sebagai pengaturan default untuk semua obrolan dan panggilan di Messenger sehingga tersedia untuk seluruh pengguna pada tahun 2023 mendatang.
 
(MMI)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif