Dekan Eksekutif College of Emerging Sciences UPH, Rizaldi Sistiabudi, mengungkapkan bahwa pesatnya adopsi kecerdasan buatan menuntut perguruan tinggi untuk menjadi Center of Excellence. Rizaldi menekankan bahwa peningkatan hasil luaran (output) berbasis AI tidak boleh mengabaikan kualitas proses pembelajaran aktual mahasiswa.
"AI sangat canggih dan mempercepat output, tetapi dalam dunia pendidikan, peningkatan output tidak selalu sama dengan hasil pembelajaran jika mahasiswa hanya mengandalkan instruksi instan," ujar Rizaldi. Oleh karena itu, UPH mendirikan Fakultas Artificial Intelligence dan Data Science untuk mengolaborasikan riset AI dengan disiplin ilmu lain seperti kedokteran, hukum, hingga DKV guna memecahkan masalah riil.
Pentingnya Komputasi Lokal dan Kehadiran NVIDIA RTX Spark
Country Consumer Business Lead NVIDIA Indonesia, Adrianus Lesmono, memaparkan bahwa lanskap kecerdasan buatan kini telah bertransmisi dari Generative AI (chatbot teks/gambar) menuju Agentic AI. Dalam Agentic AI, peranti lunak tidak hanya memberikan jawaban verbal, melainkan mengeksekusi instruksi kerja kompleks secara mandiri dan otomatis sebagai asisten digital para ahli.Guna menopang beban kerja Agentic AI dan riset mendalam tanpa memicu pembengkakan biaya langganan cloud maupun isu privasi data, NVIDIA menekankan pentingnya ekosistem pemrosesan AI lokal (on-device). Dalam paparan resminya, Adrianus memperkenalkan jajaran kategori keras terbaru buatan NVIDIA yang mencakup RTX Spark (tersedia untuk format laptop dan desktop) serta mini superkomputer DGX Spark.
"Perangkat seperti RTX Spark dirancang khusus sejak awal untuk menjalankan AI capability agent yang membutuhkan performa tinggi bagi para builder, peneliti, maupun pengembang solusi. Sementara DGX Spark memungkinkan pemrosesan model AI berukuran besar secara lokal dan dapat terhubung hingga empat unit sekaligus tanpa memerlukan jaringan internet atau langganan token," jelas Adrianus.
Sistem SIPETIK: Implementasi AI Lokal untuk Pertanian Indonesia
Bukti konkret transformasi salah satu mahasiswa UPH menjadi AI builder ditunjukkan oleh Bryan Daniel Angelino, mahasiswa Sistem Informasi UPH. Didukung oleh laptop Acer Predator Triton 14 AI yang ditenagai GPU NVIDIA GeForce RTX 5070, Bryan mengembangkan inovasi bertajuk SIPETIK (Sistem Pemantau Hama Sawah Cerdas Berbasis AI dan Dashboard Monitoring).
Bryan menceritakan bahwa pengembangan awal sistem pendeteksi hama pada lahan sawah tersebut sempat terkendala saat menggunakan perangkat keras lama berarsitektur GPU GTX 1650. Keterbatasan pemrosesan membuat akurasi pemodelan rendah hingga memicu kesalahan deteksi, seperti mengategorikan petani sebagai hama atau memicu alarm palsu (false alarm).
"Setelah mendapatkan dukungan pemrosesan dari laptop Acer bertenaga RTX 5070, akurasi deteksi meningkat drastis. Tingkat false alarm turun dari 12,5% menjadi 0%. Selain itu, kecepatan deteksi kamera meningkat dari yang tadinya hanya 6 FPS pada pemrosesan CPU menjadi 133 FPS berkat pemanfaatan Tensor Core dan RT Core," ungkap Bryan.
Efisiensi hardware lokal tersebut juga memangkas durasi pelatihan model (model training) kamera AI milik Bryan dari yang sebelumnya memakan waktu 6,3 jam menjadi hanya 1 jam 4 menit.
Kolaborasi antara UPH, NVIDIA, dan Acer ini diharapkan dapat terus berlanjut guna melahirkan inovator-inovator baru dari lingkungan kampus yang mampu menjawab tantangan industri dan kebutuhan masyarakat secara nyata.
(Nur Aldiansyah Amirulloh)