Infotainment Polytron G3+
Infotainment Polytron G3+

Begini Infrastruktur Teknologi dari Skema Langganan Baterai Polytron G3+

Mohamad Mamduh • 26 Januari 2026 13:45
Jakarta: Salah satu hambatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia adalah kekhawatiran akan degradasi baterai di masa depan. Menjawab tantangan ini, Polytron menghadirkan terobosan strategis pada peluncuran SUV listrik G3+ melalui skema Battery as a Service (BaaS). Di balik model bisnis penyewaan baterai ini, terdapat fondasi teknologi canggih yang memungkinkannya beroperasi secara berkelanjutan dan aman.
 
Secara fundamental, BaaS memisahkan kepemilikan kendaraan (sasis, motor, dan elektronik) dengan komponen penyimpanan energi (baterai). Konsumen membeli mobil dengan harga yang dipangkas drastis—turun sekitar Rp120 juta dari harga normal—namun membayar biaya langganan bulanan untuk penggunaan baterai.
 
Agar skema ini layak secara teknis, Polytron mengintegrasikan sistem canggih ke dalam Vehicle Control Unit (VCU) G3+. Kendaraan ini terhubung secara permanen ke cloud server Polytron melalui jaringan seluler, memungkinkan pemantauan real-time terhadap status baterai.

Melalui aplikasi Polytron EV, baik pengguna maupun pabrikan dapat memantau parameter kritis seperti tegangan per sel, suhu operasional, dan riwayat pengisian daya. Konektivitas inilah yang memastikan baterai digunakan dalam batas wajar dan memungkinkan Polytron melakukan intervensi dini jika terdeteksi anomali, sebelum kerusakan permanen terjadi.
 
Keberanian Polytron memberikan garansi baterai seumur hidup bagi pengguna BaaS tidak lepas dari pemilihan teknologi sel baterai itu sendiri. Polytron G3+ menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) berkapasitas 51,9 kWh. Secara teknis, kimia LFP memiliki cycle life (siklus hidup) yang jauh lebih panjang—mencapai 2.000 hingga 3.000 siklus pengisian penuh—dibandingkan baterai berbasis Nikel (NMC).
 
Stabilitas struktur kimia LFP meminimalkan risiko degradasi kapasitas yang cepat, bahkan di iklim tropis Indonesia. Artinya, risiko finansial Polytron untuk mengganti baterai yang rusak di tengah masa sewa sangat kecil. Tanpa durabilitas inheren dari teknologi LFP ini, model bisnis BaaS akan sangat berisiko merugikan produsen akibat klaim garansi yang tinggi.
 
Dalam ekosistem BaaS, Polytron bertanggung jawab penuh atas kesehatan baterai (State of Health/SoH). Jika performa baterai turun di bawah ambang batas tertentu (umumnya 70-80%), Polytron wajib menggantinya.
 
Di sinilah peran Battery Management System (BMS) menjadi krusial. BMS pada G3+ tidak hanya menyeimbangkan sel saat pengisian, tetapi juga terus-menerus menghitung SoH berdasarkan algoritma kompleks yang memperhitungkan impedansi internal dan kapasitas total yang tersisa.
 
Data diagnostik ini dikirimkan ke pusat data, memungkinkan Polytron memprediksi kapan sebuah unit baterai perlu "pensiun" dari mobil dan dialihfungsikan (repurpose) untuk kebutuhan lain, seperti penyimpanan energi stasioner, sebelum benar-benar rusak. Siklus teknis ini menciptakan efisiensi rantai pasok yang mendukung keberlanjutan model bisnis sewa.
 
Harga mobil listrik Polytron G3+ di Indonesia harganya mulai dari Rp459 juta (On The Road/OTR) untuk tipe Buy to Own (beli unit dan baterai). Untuk model berlangganan (Battery as a Service) harganya mulai dari Rp299 juta dengan tambahan sewa baterai sekitar Rp1,2 juta per bulan. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan