Menurut Huang, tahun 2025 mencatat rekor investasi terbesar dalam sejarah modal ventura, dengan lebih dari USD100 miliar mengalir ke perusahaan-perusahaan berbasis AI. Ia menekankan bahwa fenomena ini bukan sekadar tren sesaat atau gelembung teknologi, melainkan sebuah pergeseran struktural yang akan membentuk arah pembangunan ekonomi dunia. “AI adalah infrastruktur, dan saya tidak bisa membayangkan ada satu negara pun yang tidak membutuhkan AI sebagai bagian dari infrastrukturnya,” ujar Huang.
Huang menggambarkan ekosistem AI sebagai “kue lima lapis” yang terdiri dari energi, chip dan perangkat keras komputasi, pusat data cloud, model AI, serta aplikasi. Kelima lapisan ini saling terkait dan membentuk fondasi yang memungkinkan AI berkembang pesat.
Ia menekankan bahwa pembangunan pusat data berskala besar, penyediaan energi yang berkelanjutan, serta pengembangan chip berperforma tinggi akan menjadi tulang punggung revolusi ini.
Selain itu, Huang menyoroti dampak sosial dan ekonomi dari ekspansi AI. Ia percaya bahwa teknologi ini akan menciptakan peluang kerja baru, baik di sektor startup maupun perusahaan besar, sekaligus mendorong tenaga kerja manusia untuk beralih dari tugas-tugas repetitif menuju pekerjaan yang lebih bermakna. Dengan kata lain, AI bukan hanya menggantikan peran manusia, tetapi juga membuka ruang bagi kreativitas dan inovasi.
Bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, pernyataan Huang menjadi sinyal penting. Pembangunan infrastruktur digital dan adopsi AI dapat menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing nasional. Investasi pada pusat data, energi hijau, serta pengembangan talenta digital akan menentukan posisi Indonesia dalam peta ekonomi global yang semakin digerakkan oleh teknologi.
Dengan skala investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dunia tengah bergerak menuju era baru di mana kecerdasan buatan menjadi fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News