Mark Zuckerberg menjadikan Tiongkok sebagai pembanding menyoal moderasi kebebasan berekspresi.
Mark Zuckerberg menjadikan Tiongkok sebagai pembanding menyoal moderasi kebebasan berekspresi.

Mark Zuckerberg Jadikan Tiongkok Contoh Soal Kebebasan Berekspresi

Lufthi Anggraeni • 18 Oktober 2019 16:06
Jakarta: Dalam pidatonya di Georgetown University, CEO dan Pendiri Facebook Mark Zuckerberg menjabarkan pendekatan Facebook terkait moderasi komitmen berkelanjutannya terhadap kebebasan berekspresi.
 
Dalam bagian khusus, Zuckerberg memberikan perbedaan tegas antara moderasi yang diusung perusahaannya jika dibandingkan dengan perusahaan asal Tiongkok, yang tidak dinilai mengusung komitmen moderasi tersebut.
 
Seperti yang digambarkan Zuckerberg, regulator dan ahli teknologi tengah menghadapi pertanyaan terkait nilai negara penentu informasi yang dapat beredar selama beberapa dekade mendatang, milik Tiongkok atau Amerika Serikat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Zuckerberg membeberkan komitmen Facebook terhadap kebebasan berekspresi, juga menekankan bahwa nilai tersebut telah mendapatkan ancaman dari Tiongkok. Kekhawatiran menyoal penyensoran di Tiongkok muncul di tengah protes pro-demokrasi yang terjadi di Hong Kong.
 
Sejumlah perusahaan Amerika Serikat berupaya untuk meredam dukungan internal terhadap protes guna menghormati mitra asal Tiongkok.
 
Perusahaan tersebut termasuk NBA dan Blizzard yang melarang pemain Hearthstone profesional berkomentar terkait protes Hong Kong pada wawancara yang dilakukan setelah pertandingan.
 
Sementara itu, Partai Demokrat kembali mengkritisi Facebook pada beberapa bulan terakhir, salah satunya disampaikan oleh Elizabeth Warren. Sebagai tanggapannya, Zuckerberg mengajukan penawaran kepada pemimpin konservatif.
 
Namun ditengah perseteruan Facebook dengan anggota partai, Zuckerberg menyebut pertumbuhan perusahaan internet asal Tiongkok menjadi ancaman nasional lebih besar untuk kebebasan berekspresi warga Amerika Serikat.
 
Zuckerberg mengacu pada panduan yang disampaikan oleh perusahaan induk TikTok, ByteDance, yang dirilis oleh The Guardian pada pekan lalu.
 
Panduan tersebut melarang kritisi terhadap pemerintah Tiongkok, serta demonisasi atau distorsi sejarah lokal atau negara lain seperti kerusuhan di Indonesia pada bulan Mei 1998, genosida Kamboja, dan insiden Tiananmen Square.
 
Sementara itu, TikTok menyebut bahwa panduan yang dirilis oleh The Guardian merupakan versi lama dan belum direvisi, serta menekankan bahwa keputusan moderasi Amerika Serikat dibuat oleh tim berbasis di Amerika Serikat dan tidak terpengaruh oleh pemerintah asing.
 
Momok menyoal kompetitor asal Tiongkok untuk Facebook ini digunakannya sejak beberapa waktu lalu, ditujukan untuk mendapat dukungan dari pemerintah, termasuk untuk mata uang kripto yang diajukan oleh Facebook.
 
Namun, komentar Zuckerberg tersebut memperparah konflik antara Facebook dan kompetitor asal Tiongkok, serta menghadirkan konflik di tengah perdebatan terkait kebijakan moderasi.
 
(MMI)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif