Indonesia Kekurangan Teknisi, Bagaimana Cara Mengatasinya?

M Studio 02 November 2018 14:00 WIB
sap
Indonesia Kekurangan Teknisi, Bagaimana Cara Mengatasinya?
Senior Vice President SAP, Clas Neumann. (Medcom.id)
Jakarta: Revolusi industri menjadi salah satu fokus pemerintah tahun ini. Berbagai perusahaan di berbagai industri berlomba-lomba untuk bisa melakukan transformasi digital. Ini menyebabkan terjadinya kekurangan tenaga ahli. 

"Banyak industri bergerak bersamaan untuk melakukan digitalisasi, mulai dari perusahaan tekstil sampai perusahaan mobil. Mereka semua memerlukan teknisi. Sebelum ini, mereka mungkin bisa menggantungkan diri pada perusahaan teknologi seperti SAP, sekarang, semua perusahaan memiliki tim pengembangan software sendiri," kata Senior Vice President SAP, Clas Neumann saat ditemui di Ritz-Carlton, Pacific Place.

"Ada permintaan tinggi akan teknisi, tapi tidak ada suplai yang cukup," kata Neumann. "Di Indonesia, tingkat permintaan akan teknisi juga melebihi dari suplai, dari lulusan yang ada. Masalah ini juga terjadi di beberapa negara lain. Salah satu penyebab utama hal ini adalah kita kesulitan untuk melatih seseorang dengan kemampuan yang diperlukan dalam waktu singkat."


Neumann menyebutkan, masalah kekurangan tenaga ahli ini tidak hanya terjadi di bidang seperti kecerdasan buatan dan machine learning, tapi juga tenaga kerja buruh di pabrik.

"Orang-orang yang bekerja di pabrik harus meningkatkan kemampuan mereka karena kini mereka memerlukan keahlian yang berbeda. Jika sebelum ini mereka cukup tahu tentang cara merakit beberapa komponen, tugas itu kini telah tergantikan oleh robot," ujar Neumann. 

Untungnya, teknologi sekarang sudah jauh lebih mudah untuk digunakan. "Robot industri 10 tahun lalu, Anda perlu teknisi untuk mengoperasikannya. Sekarang, semua orang bisa tahu cara menggunakan robot. Teknologi membuat teknologi menjadi mudah untuk digunakan. Ini juga merupakan tujuan dari software kami: kemudahan penggunaan. Agar semakin banyak orang yang bisa menggunakan software SAP," kata Neumann. 



Lalu, bagaimana cara mengatasi hal ini?

Neumann merasa, masalah kurangnya tenaga ahli di bidang teknologi tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah jumlah universitas atau besar kelas terkait teknologi di universitas. "Karena universitas juga memerlukan dosen dan untuk melatih mereka diperlukan waktu," katanya. 

Di beberapa negara, seperti Jerman, mereka mengadopsi sistem yang disebut "vocational training program", yang memaksa pelajar untuk menghabiskan setengah waktunya belajar di kampus dan setengahnya lagi mempelajari cara kerja perusahaan. Dengan begitu, para pelajar akan bisa mempelajari skill yang memang akan mereka perlukan di dunia kerja. 

SAP sendiri telah membuka program online yang disebut SAP University. Adanya program ini diharapkan akan bisa membuka kesempatan agar semua orang bisa mempelajari tentang software SAP. Saat ini, program tersebut tersedia dalam tiga bahasa yaitu Inggris, Jerman, dan Mandarin. 

"Pelatihan secara online juga lebih pantas untuk dilakukan sekarang ini," kata Neumann. "Tapi, kita masih perlu membahas bagaimana pelatihan terbuka seperti itu bisa menghasilkan gelar. Saat ini, walau Anda bisa mempelajari suatu topik dengan cukup dalam dari pelatihan online, Anda tidak akan mendapatkan ijazah."

Selain itu, SAP juga menyediakan University Alliance Program. Dalam program ini, SAP bekerja sama dengan beberapa universitas di Indonesia untuk menyediakan peralatan dan pelatihan agar pihak universitas bisa memberikan pelajaran tentang SAP pada muridnya. 



(ELL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.