Langkah ini menandai berakhirnya era ketika penegak hukum bisa dengan mudah menutup server ilegal. Dengan memanfaatkan sifat blockchain yang desentralisasi dan imutabel (tidak dapat diubah), kelompok kriminal membangun "benteng digital" yang hampir mustahil untuk diruntuhkan dengan metode tradisional.
Selama bertahun-tahun, Bitcoin dan Monero menjadi pilihan utama untuk pencucian uang hasil ransomware. Namun, laporan tersebut memprediksi bahwa pada tahun 2026, aktor ancaman akan memanfaatkan Web3 stack secara penuh. Mereka mulai menggunakan smart contracts untuk mengotomatiskan pembagian hasil kejahatan di antara anggota sindikat dan menggunakan protokol komunikasi terdesentralisasi untuk menggantikan server Command and Control (C2) konvensional.
"Pergeseran ke infrastruktur on-chain memberikan ketahanan operasional yang belum pernah ada sebelumnya bagi para penjahat," tulis para peneliti dalam laporan tersebut. Jika dahulu pihak berwenang dapat menyita domain atau mematikan pusat data fisik, kini mereka menghadapi jaringan global yang tersebar di ribuan simpul (nodes) tanpa titik kegagalan tunggal.
Seiring dengan migrasi infrastruktur ini, fokus serangan juga bergeser. Sektor Decentralized Finance (DeFi) dan jembatan antar-blockchain (cross-chain bridges) diprediksi akan menjadi sasaran utama. Penjahat siber tidak lagi hanya mencuri data pribadi, tetapi langsung mengincar kelemahan kode dalam smart contracts untuk menguras kolam likuiditas yang bernilai jutaan dolar dalam hitungan detik.
Selain itu, laporan ini menyoroti tren "Cybercrime-as-a-Service" yang semakin canggih di jaringan on-chain. Para peretas ahli kini menyewakan alat serangan mereka melalui platform terdesentralisasi. Transaksi dilakukan secara otomatis dan anonim, sehingga sulit bagi analis intelijen untuk melacak siapa dalang di balik sebuah kampanye serangan besar.
Migrasi ke ekonomi on-chain ini menciptakan tantangan besar bagi tim keamanan siber korporat. Metode deteksi tradisional yang mengandalkan daftar hitam IP (IP blacklisting) atau pemblokiran domain menjadi kurang efektif. Di tahun 2026, perusahaan dituntut untuk memiliki kemampuan analisis blockchain guna memantau aliran dana dan mendeteksi aktivitas mencurigakan yang berinteraksi dengan aset digital mereka.
Penegak hukum global juga dipaksa untuk beradaptasi. Kerja sama internasional menjadi lebih krusial dari sebelumnya, mengingat sifat blockchain yang melintasi batas negara tanpa hambatan. Laporan tersebut menekankan pentingnya pengembangan alat forensik digital baru yang mampu menelusuri transaksi melalui protokol privasi yang kompleks dan mixer kripto.
Google Cloud Security menyimpulkan bahwa ekonomi kejahatan on-chain adalah evolusi alami dari ekosistem digital yang semakin terbuka. Meskipun teknologi blockchain menawarkan banyak manfaat bagi inovasi finansial, ia juga memberikan perlindungan bagi mereka yang berniat jahat.
Pertahanan siber tidak lagi cukup hanya dengan menjaga perimeter internal. Memahami dinamika ekonomi on-chain dan memperkuat keamanan aset digital adalah keharusan untuk bertahan di era baru yang penuh tantangan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News