Foto: BRIN
Foto: BRIN

Uji Prototipe ASEAN Technology Management Hub dari BRIN

Mohamad Mamduh • 18 Februari 2026 16:54
Ringkasnya gini..
  • Nilai investasi besar tersebut menghadapi kendala struktural berupa ekosistem inovasi yang terfragmentasi.
  • Berbeda dengan direktori teknologi konvensional, TMH menerapkan mekanisme validasi bertingkat.
  • Kemudian, validasi UX yang dilakukan berfokus pada perbaikan sistem sebelum finalisasi sistem pada akhir Februari 2026.
Jakarta: Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Committee on Science, Technology, and Innovation (COSTI) Indonesia, bersama ASEAN Secretariat, melaksanakan UX Validation Workshop - ASEAN Technology Management Hub (TMH), Kamis (12/2).
 
Workshop ini menargetkan pengujian teknis terhadap operational prototype (Deliverable 3) yang telah diselesaikan pada Desember 2025, sebelum platform tersebut diluncurkan untuk penggunaan regional.
 
Asisten Direktur Divisi Sains dan Teknologi Sekretariat ASEAN, Zurina Moktar, memaparkan data mengenai besarnya skala ekonomi inovasi di kawasan ini. “Upaya ini hadir pada saat yang penting karena perekonomian ASEAN terus memperluas masukan inovasi mereka, dengan pengeluaran R&D regional tumbuh rata-rata 8,5% per tahun antara tahun 2000 dan 2023, mencapai hampir US$60 miliar”, ujarnya.

Namun, ia mengungkapkan adanya ketimpangan besar antara dana yang keluar dengan produk yang dihasilkan. Nilai investasi besar tersebut menghadapi kendala struktural berupa ekosistem inovasi yang terfragmentasi. Repositori akademik berjalan sendiri, data sektor swasta tertutup, dan kebijakan pemerintah seringkali tidak terintegrasi, yang mengakibatkan stagnasi hilirisasi teknologi ke pasar.
 
Direktur Pengukuran dan Indikator Riset, Teknologi, dan Inovasi BRIN, Khairul Rizal, menegaskan ASEAN TMH dibangun sebagai pilar ketiga infrastruktur inovasi regional. Pilar ini melengkapi dua infrastruktur yang sudah ada, yakni Regional Research Infrastructure (RRI) untuk akses fasilitas riset fisik, dan ASEAN Talent Mobility (ATM) untuk mobilitas periset.
 
"Yang pertama adalah infrastruktur dan yang kedua adalah platform talenta. Infrastruktur dan talenta sangat penting untuk sistem inovasi regional yang kuat. Namun, sama pentingnya untuk memastikan bahwa teknologi yang diciptakan benar-benar sampai ke tangan mereka yang dapat memanfaatkannya."
 
"TMH berfungsi sebagai pilar ketiga yang penting. Ini melengkapi laboratorium fisik dan sumber daya manusia kita dengan menyediakan platform digital regional yang dirancang untuk mengidentifikasi, memvalidasi, dan mencocokkan penawaran teknologi dengan permintaan teknologi," jelas Khoirul.
 
Dalam sesi bedah teknis, Team Leader pengembangan ASEAN TMH dari Terminal Koding Teknologi, Anti Rismayanti, memaparkan arsitektur ASEAN TMH yang terdiri dari empat lapisan (layer) terintegrasi, yaitu User Layer, Validation Layer, Governance Layer, dan Data Layer.
 
Keunggulan teknis utama platform ini terletak pada penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam mekanisme matchmaking. Algoritma AI akan secara otomatis merekomendasikan teknologi yang relevan bagi pencari teknologi (tech seeker) berdasarkan profil dan kebutuhan yang diinput ke dalam sistem.
 
“Data layer memungkinkan analisis dan insight bagi policy makers. Ini adalah mencocokkan, balancing-kan antara yang punya teknologi dan yang mencari teknologi, kita menggunakan bantuan AI juga. Jadi, di platform ini kita sudah menggunakan AI,” ujarnya.
 
Berbeda dengan direktori teknologi konvensional, TMH menerapkan mekanisme validasi bertingkat. Setiap teknologi yang didaftarkan oleh penyedia (provider) harus melalui proses validasi oleh COSTI di negara masing-masing sebelum dapat diakses publik. Hal ini untuk menjamin kredibilitas dan kesiapan teknologi yang ditawarkan di pasar regional.
 
Untuk mengatasi hambatan bahasa teknis antar negara, platform ini mengadopsi standarisasi Tingkat Kesiapan Teknologi (Technology Readiness Level/TRL) yang disederhanakan menjadi tiga fase utama, yaitu Early Stage (TRL 1-3), Development (TRL 4-6), dan Deployment (TRL 7-9).
 
Kemudian, validasi UX yang dilakukan berfokus pada perbaikan sistem sebelum finalisasi sistem pada akhir Februari 2026. Hasil dari validasi di Jakarta ini akan dikonsolidasikan dengan hasil lokakarya serupa yang dilakukan oleh COSTI Kamboja, untuk memastikan platform mampu mengakomodasi kebutuhan ekosistem inovasi yang beragam di seluruh Asia Tenggara.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA