Ilustrasi: Zebra Technologies
Ilustrasi: Zebra Technologies

Gudang Sudah Canggih, Tapi Last Mile Masih Jadi Titik Lemah Logistik

Mohamad Mamduh • 02 Januari 2026 14:16
Jakarta: Transformasi digital di sektor logistik global ternyata belum merata. Sementara modernisasi di dalam tembok gudang dan pusat distribusi telah mencapai kemajuan pesat, operasi pengiriman di jalan raya (delivery and field operations) atau yang sering disebut sebagai "last mile", masih tertinggal jauh dan menjadi hambatan utama efisiensi rantai pasok saat ini.
 
Kesimpulan ini terungkap dalam laporan terbaru "Elevating Transportation and Logistics Value: The Impact of Intelligent Operations" yang dirilis oleh Zebra Technologies dan Oxford Economics. Studi yang mensurvei lebih dari 200 pemimpin industri logistik ini menemukan adanya kesenjangan teknologi yang nyata antara manajemen inventaris internal dan operasi pengiriman eksternal.
 
Menurut laporan tersebut, sebagian besar gudang dan pusat distribusi melaporkan telah mencapai perbaikan yang berarti (meaningful improvements) dalam alur kerja manajemen inventaris mereka selama dua tahun terakhir. Penggunaan teknologi seperti tablet dan pemindai RFID telah berhasil meningkatkan kecepatan operasional dan akurasi stok secara signifikan di fasilitas-fasilitas ini.

Situasi berbeda terjadi di luar gudang. Laporan mencatat bahwa kemajuan jauh lebih lambat terlihat di lapangan, terutama terkait waktu rute, visibilitas tingkat pengemudi, dan produktivitas pengiriman. Mayoritas responden mengakui bahwa alur kerja pengiriman dan operasi lapangan mereka sangat membutuhkan perbaikan, tetapi mereka belum melihat kemajuan yang berarti dalam dua tahun terakhir.
 
Masalah utama di sektor last mile ini berpusat pada dua hal: waktu dan transparansi. Sebanyak 68% responden menargetkan pengurangan waktu rute sebagai prioritas utama, sementara 66% menginginkan visibilitas penuh terhadap setiap truk, pengemudi, dan paket yang dikirim.
 
Tanpa teknologi yang memadai, manajer armada sering kali buta terhadap apa yang terjadi setelah truk meninggalkan gudang. Hal ini menyulitkan mereka untuk mengoptimalkan jadwal atau merespons gangguan di jalan secara real-time.
 
Untuk mengatasi ketertinggalan ini, para pemimpin industri mengidentifikasi kebutuhan mendesak akan teknologi yang lebih cerdas. Analitik prediktif menjadi teknologi yang paling dibutuhkan, dipilih oleh 69% responden, diikuti oleh komputer seluler dengan pembaca barcode (66%). Teknologi ini memungkinkan perencanaan rute yang lebih dinamis dan pelacakan yang presisi.
 
Dorongan untuk memodernisasi sektor pengiriman ini bukan tanpa alasan finansial yang kuat. Data menunjukkan bahwa organisasi yang berhasil memperbaiki operasi pengiriman dan lapangan mereka mencatatkan pertumbuhan pendapatan 2,3 poin persentase lebih tinggi selama setahun terakhir dibandingkan yang tidak.
 
Bagi organisasi tipikal dalam survei ini, angka tersebut dapat diterjemahkan menjadi potensi kenaikan pendapatan sebesar USD17,1 juta. Direktur operasi sebuah perusahaan transportasi global dalam laporan tersebut menegaskan pentingnya efisiensi sekecil apa pun di jalan raya.
 
"Jika kamu mengalikannya dari waktu ke waktu dan di seluruh organisasi, penghematan bahan bakar, pengurangan kecelakaan, dan efisiensi dalam pengiriman aktual—itu adalah uang nyata yang kamu hemat dalam ribuan kejadian kecil yang berbeda," ungkapnya.
 
Dengan gudang yang sudah semakin optimal, perlombaan efisiensi logistik kini berpindah ke jalan raya. Perusahaan yang gagal menutup kesenjangan teknologi di sektor last mile ini berisiko kehilangan peluang pendapatan yang signifikan di tengah kompetisi yang makin ketat.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan