Microsoft menyiapkan perlindungan baru di Teams untuk mendeteksi deepfake, impersonasi, dan bot AI yang berpotensi mengancam rapat bisnis.
Microsoft menyiapkan perlindungan baru di Teams untuk mendeteksi deepfake, impersonasi, dan bot AI yang berpotensi mengancam rapat bisnis.

Microsoft Teams Siapkan Deteksi Deepfake

Lufthi Anggraeni • 06 Oktober 2026 10:03
Ringkasnya gini..
  • Microsoft menyiapkan perlindungan Teams untuk mendeteksi indikasi impersonasi dan peserta mencurigakan dalam rapat.
  • Deteksi audio dan video deepfake akan memanfaatkan solusi dari penyedia pihak ketiga bersertifikasi.
  • Teams juga memperketat kontrol terhadap bot AI eksternal agar tidak masuk rapat tanpa persetujuan.
Jakarta: Microsoft memperkuat keamanan Microsoft Teams dengan menyiapkan perlindungan baru untuk menghadapi ancaman deepfake dalam rapat virtual. Fitur tersebut dirancang untuk membantu organisasi mengenali peserta atau penyelenggara rapat yang berpotensi menggunakan identitas palsu atau media sintetis berbasis kecerdasan buatan (AI).

Mengutip Digital Trends, langkah ini menjadi semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan AI untuk membuat suara dan video sintetis yang dapat meniru seseorang. Dalam konteks rapat bisnis, teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk menyamar sebagai karyawan, eksekutif, klien, atau pihak lain yang dipercaya.

Microsoft memasukkan kemampuan tersebut ke dalam rangkaian fitur keamanan Teams yang lebih luas. Perusahaan teknologi ini tidak hanya mengembangkan mekanisme untuk mengidentifikasi peserta mencurigakan, tetapi juga menyiapkan integrasi dengan penyedia teknologi pihak ketiga untuk mendeteksi audio dan video sintetis secara langsung.
 
Fraunhofer-SIT-ATHENE-Deepfake-Detection-Demo
 

Teams Deteksi Peserta Mencurigakan

Salah satu fitur baru yang disiapkan Microsoft adalah Impersonation Protection for Teams meetings. Fitur ini dirancang untuk membantu pengguna mengenali peserta atau penyelenggara rapat yang diduga melakukan impersonasi.

Saat Teams mendeteksi potensi upaya penyamaran, aplikasi dapat menampilkan peringatan serta indikator risiko. Informasi tersebut ditujukan untuk membantu peserta mengambil keputusan lebih berhati-hati sebelum mempercayai identitas seseorang dalam rapat.

Menurut informasi pada Microsoft 365 Roadmap, fitur tersebut berstatus dalam pengembangan dan dijadwalkan mencapai ketersediaan umum pada November 2026. Fitur akan tersedia untuk Teams pada desktop dan Mac secara global.

Perlindungan tersebut tidak berarti Teams dapat memastikan secara mutlak bahwa seseorang adalah manusia asli. Sebaliknya, sistem memberikan sinyal tambahan saat menemukan indikasi bahwa identitas peserta mungkin tidak sesuai dengan informasi yang ditampilkan.

Pendekatan tersebut penting karena serangan berbasis impersonasi tidak selalu bergantung pada deepfake. Pelaku juga dapat menggunakan informasi perusahaan, profil karyawan, atau identitas organisasi untuk membuat komunikasi terlihat meyakinkan.

Sebelumnya, Microsoft telah memperkenalkan perlindungan terhadap impersonasi pada Teams Calling. Fitur tersebut memberikan peringatan saat sistem mendeteksi peluang penelepon eksternal menyamar sebagai organisasi tepercaya.

Deteksi Deepfake Mengandalkan Pihak Ketiga

Microsoft juga menyiapkan kemampuan khusus untuk mendeteksi audio dan video sintetis dalam rapat Teams. Namun, berbeda dari perlindungan impersonasi, proses pendeteksian deepfake tersebut dilakukan oleh penyedia teknologi pihak ketiga yang telah mendapatkan sertifikasi.

Berdasarkan informasi Microsoft 365 Roadmap, solusi pihak ketiga akan menganalisis media rapat untuk mencari tanda audio atau video sintetis maupun hasil manipulasi. Saat menemukan indikasi tersebut, penyedia layanan mengirimkan sinyal deteksi kepada Teams.

Teams kemudian menyediakan integrasi dan antarmuka untuk menampilkan hasil deteksi serta memungkinkan pengguna atau organisasi mengambil tindakan berdasarkan sinyal tersebut. Microsoft menegaskan bahwa proses analisis synthetic media dilakukan oleh penyedia pihak ketiga, bukan oleh Teams secara langsung.

Fitur tersebut dijadwalkan tersedia secara umum pada bulan November 2026. Dukungan direncanakan mencakup Android, iOS, desktop, dan Mac. Pendekatan ini memungkinkan organisasi menggunakan teknologi deteksi deepfake dari perusahaan khusus tanpa harus membangun seluruh sistem deteksi karya mereka. 

Bagi Microsoft, integrasi tersebut juga memungkinkan Teams berfungsi sebagai lapisan koordinasi yang menampilkan peringatan dan hasil deteksi kepada peserta rapat. Microsoft bahkan menyediakan API dalam Microsoft Graph untuk melaporkan hasil deteksi synthetic media terhadap peserta rapat. 

API tersebut memungkinkan bot deteksi pihak ketiga menandai peserta saat aliran audio atau video mereka teridentifikasi sebagai media sintetis. Hasil deteksi kemudian dapat diteruskan kepada peserta lain melalui pembaruan roster rapat.
 

Perlindungan Juga Menyasar Bot AI

Upaya Microsoft tidak berhenti pada deepfake. Teams juga memperkuat kontrol terhadap bot eksternal yang bergabung ke dalam rapat. Microsoft telah memperkenalkan mekanisme untuk mendeteksi meeting assistant bot eksternal saat mencoba masuk ke rapat. 

Bot yang teridentifikasi dapat ditempatkan di lobby dan diberi label sehingga penyelenggara mengetahui bahwa peserta tersebut merupakan sistem otomatis. Penyelenggara kemudian dapat menyetujui atau menolak akses bot. 

Administrator organisasi juga dapat mengatur kebijakan terkait cara Teams menangani bot eksternal. Microsoft menyebut pengaturan default mengharuskan bot terdeteksi memperoleh persetujuan sebelum bergabung.

Selain itu, perusahaan asal Amerika Serikat ini juga menyediakan opsi untuk secara otomatis memblokir seluruh bot eksternal yang teridentifikasi. Fitur tersebut mulai digulirkan pada bulan September 2026 untuk berbagai platform Teams, termasuk Android, iOS, desktop, Mac, dan web.

Perlindungan terhadap bot menjadi penting karena tidak semua ancaman AI dalam rapat berbentuk manusia digital. Bot pencatat rapat, transkripsi, dan asisten AI juga dapat memperoleh akses terhadap percakapan atau informasi sensitif tanpa disadari peserta.

Microsoft mengatakan bot eksternal dapat menimbulkan risiko keamanan, privasi, kepatuhan, dan kebocoran data jika masuk ke rapat tanpa sepengetahuan atau persetujuan penyelenggara.

Ancaman Deepfake Semakin Serius

Perkembangan fitur keamanan Teams tersebut mencerminkan perubahan lanskap ancaman siber. AI membuat proses menghasilkan suara dan video palsu semakin mudah, sementara kualitas hasilnya terus meningkat.

Dalam serangan impersonasi, pelaku tidak harus mengambil alih akun korban. Mereka dapat mencoba membuat representasi digital yang menyerupai seseorang dan menggunakannya untuk meyakinkan korban bahwa komunikasi tersebut berasal dari pihak tepercaya.

Risiko ini sangat besar dalam lingkungan perusahaan karena rapat virtual sering digunakan untuk membahas informasi internal, transaksi finansial, strategi bisnis, hingga keputusan penting. Microsoft sebelumnya telah memperingatkan mengenai meningkatnya penggunaan deepfake, voice cloning, dan teknik berbasis AI dalam penipuan serta rekayasa sosial. 

Microsoft menyebut teknologi AI telah menurunkan hambatan teknis bagi pelaku untuk membuat materi penipuan yang lebih meyakinkan. Meski demikian, sistem deteksi deepfake bukan solusi yang menjamin keamanan secara mutlak. 

Kemampuan AI generatif berkembang cepat sehingga teknik pendeteksian juga harus terus diperbarui. Microsoft sendiri mencatat bahwa sistem deteksi bot dapat melewatkan sejumlah bot atau salah mengklasifikasikan peserta manusia dalam kondisi tertentu.

Karena itu, perlindungan baru Teams lebih tepat dipandang sebagai lapisan keamanan tambahan. Pengguna dan organisasi tetap perlu melakukan verifikasi identitas secara independen, terutama saat rapat berkaitan dengan transaksi keuangan, akses sistem, atau informasi sangat sensitif.

Dengan kombinasi perlindungan impersonasi, identifikasi bot, dan integrasi deteksi synthetic media, Microsoft berupaya membuat Teams lebih siap menghadapi bentuk penipuan yang memanfaatkan AI. 

Tantangan berikutnya adalah memastikan sistem tersebut tetap efektif saat teknologi deepfake semakin sulit dibedakan dari audio dan video asli.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA