Dengan membeli SolarCity, kata Tesla, mereka dapat membuat "produk-produk untuk perumahan atau komersial yang sepenuhnya terintegrasi" untuk membuat, menciptakan dan mendistribusikan energi surya. Menurut The Verge, pada awalnya Tesla berencana untuk mengakuisisi SolarCity di bulan Juli lalu, sebagai bagian dari "Rencana Besar Rahasia" dari CEO Tesla, Elon Musk.
Roadmap jangka panjang dari Tesla dan SolarCity menunjukkan rencana ambisius untuk menciptakan atap panel surya yang terintegrasi dengan penyimpanan baterai. Selain itu, roadmap ini juga menunjukkan rencana untuk memperbanyak jajaran mobil listrik milik Tesla termasuk membuat truk dan sistem transportasi umum.
Dalam sebuah blog post, Tesla mengatakan, mereka berharap akan dapat mengakuisisi SolarCity senilai USD2.6 miliar (Rp33,9 triliun) dengan pemegang saham SolarCity mendapatkan 0.110 saham Tesla per saham SolarCity.
Saat ini, akuisisi ini masih belum sempurna, karena perjanjian antara Tesla dan SolarCity memiliki ayat yang memungkinkan SolarCity mencari penawaran lain hingga tanggal 14 September mendatang. Namun, Tesla cukup percaya diri, akuisisi ini akan terlaksana di kuartal 4 tahun ini.
Salah satu penghalang terjadinya akuisisi ini adalah pengaruh dari Musk sendiri. Pengusaha yang terlahir di Afrika Selatan tersebut merupakan CEO Tesla. Tidak hanya itu, dia juga menjabat sebagai Chairman di SolarCity dan pemegang saham terbesar dari kedua perusahaan.
Sementara CEO SolarCity, Lyndon Rive merupakan sepupu Musk. Reuters melaporkan bahwa Musk, Rive dan beberapa eksekutif Tesla dan SolarCity tidak ikut serta dalam pemungutan suara terkait akuisisi ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News