CEO Vivendi, Arnaud de Puyfontaine menyampaikan presentasi mengenai potensi konten video di MWC 2017 (2/3/2017).
CEO Vivendi, Arnaud de Puyfontaine menyampaikan presentasi mengenai potensi konten video di MWC 2017 (2/3/2017).

Sambut Perkembangan Teknologi, Media Group Kembangkan New Media

Insaf Albert Tarigan • 03 Maret 2017 16:29
medcom.id, Barcelona: Perkembangan teknologi informasi dan gadget memengaruhi hampir semua industri, termasuk media cetak, elektronik dan televisi. Karena itu, mau tidak mau, media harus menyesuaikan diri agar tetap relevan dengan perubahan kebiasaan pengguna dan juga menjaga bisnisnya tetap tumbuh.
 
Media Group selaku salah satu perusahaan media terkemuka di Indonesia menyadari hal tersebut dan siap bertransformasi menjadi New Media. Istilah ini merujuk pada media yang mengandalkan konvergensi dengan ciri multimedia, multiplatform dan multichannel guna menjangkau audiens kapan pun dan di mana pun.
 
Dengan demikian, penyampaian konten tak lagi hanya terbatas melalui medium-medium tradisional yang sudah kita kenal sejak beberapa dekade terakhir.
 
Televisi, misalnya, tak hanya bisa ditonton melalui televisi, tetapi juga ponsel pintar, tablet, komputer jinjing atau komputer meja. Penonton juga bisa memilih untuk menonton hanya program yang mereka sukai atau merekamnya supaya bisa ditonton ketika memiliki waktu senggang. Hal yang sama juga berlaku untuk koran.
 
Ini memang bukan pekerjaan kecil. Selain menyiapkan infrastruktur teknologi, perusahaan juga harus mengubah budaya kerja agar lebih agile dan terintegrasi antara satu unit dengan unit yang lain. Media Group menjalankan kedua hal itu secara paralel dan cermat.
 
Guna memilih teknologi yang pas, Media Group pekan lalu mengirim perwakilan ke pameran teknologi terbesar di Eropa, Mobile World Congress, yang berlangsung di Barcelona, 27 Februari - 3 Maret. Muhammad Islam, perwakilan Digital Business Dev Media Group, mengatakan, pihaknya ingin menjajaki solusi yang ditawarkan perusahaan-perusahaan besar dunia sekaligus mempelajari pengalaman media massa di negara lain.
 
"Kita ingin memulai ini secara perlahan. Sebagai langkah awal, pada Agustus nanti, Media Group akan merilis Media Asset Management," kata Islam (2/2/2017).
 
Dia menjelaskan, Media Asset Management merupakan wadah yang menyatukan semua konten media di bawah Media Group. "Kita juga akan meningkatkan kualitas tayangan Metro TV dengan beralih ke resolusi Full HD pada bulan Juni," katanya.
 
Bersamaan dengan itu, kata Islam, Media Group juga menyiapkan layanan Over The Top (OTT), Video on Demand, memperbaiki alur kerja agar lebih efisien, dan meningkatkan semua infrastruktur penunjang penyiaran.
 
"Setelah ini semua selesai, kita akan menyiapkan dua channel tambahan pada Agustus tahun ini," ujarnya.
 
Media Group berharap, transformasi ini akan meningkatkan pengalaman penggunaan audiens mereka sembari terus berkontribusi positif bagi kemajuan Indonesia.
 
Sebagai gambaran, menurut Cisco, di tahun 2017, 69 persen dari trafik internet konsumen akan digunakan untuk menonton video. Trafik dari layanan video-on-demand, seperti Netflix diperkirakan akan meningkat hingga tiga kali lipat.
 
Sementara itu, YouTube, salah satu platform paling populer untuk menonton video, saat ini telah memiliki lebih dari satu miliar pengguna. Setiap hari, ratusan juta jam video yang ada di YouTube ditonton orang-orang di seluruh dunia, menghasilkan miliaran view. Hal ini menunjukkan bahwa industri video sedang berkembang pesat. Tren ini akan terus berlanjut.
 
Di Indonesia sendiri, popularitas video terus meningkat. Di kuartal ketiga tahun 2015, Google mengumumkan bahwa terjadi peningkatan lama waktu menonton video (watchtime) sebesar 130 persen jika dibandingkan dengan kuartal tiga tahun 2014. Sedikit banyak, meningkatnya konsumsi video itu dipengaruhi oleh penetrasi ponsel pintar yang kian merata dan ditunjang kecepatan koneksi internet yang mumpuni.
 
Menurut Head of Marketing, Google Indonesia, Veronica Utami, pertumbuhan watchtime tersebut merupakan yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Satu hal yang menarik adalah karena masyarakat Indonesia terbukti tidak hanya suka menonton video di YouTube. Mereka juga mulai aktif untuk membuat konten sendiri.
 
Di tahun 2015, jumlah video yang diunggah oleh pengguna Indonesia meningkat sebanyak 600 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
 
Konten video juga sangat menarik bagi industri telekomunikasi. Saat berbicara dalam forum "The Fourth Industrial Revolution" dengan tema "Conten Gold Rush" di MWC 2017, Eric Xu, Rotating CEO Huawei mengatakan, bisnis video berpotensi menghasilkan lebih dari USD1 triliun untuk operator telekomunikasi. Potensi ini termasuk USD650miliar dari video hiburan dan USD18 miliar dari video komunikasi.
 
"Di masa depan, video akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan pekerjaan kita," katanya.
 
Dia mencontohkan, bisnis VoD di Amerika Utara menghasilkan pendapatan 50 persen dari box office. "Bagi operator, video bukanlah pilihan: sudah jelas sekarang bahwa video sudah menjadi layanan dasar."

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA