Layanan Ridesharing Dinilai Kurangi Macet

Ellavie Ichlasa Amalia 21 Maret 2018 22:46 WIB
uber
Layanan Ridesharing Dinilai Kurangi Macet
Ilustrasi.
Jakarta: Kendaraan dari layanan transportasi berbasis aplikasi atau ridesharing kini memang mulai menjamur, baik kendaraan roda dua atau roda empat.

Meskipun begitu, menurut studi dari The Boston Consulting Group (BCG), adopsi ridesharing di Asia masih sangat rendah. Sekitar 96 sampai 99 persen jalan masih dikuasai kendaraan pribadi. 

Sementara itu, di Jakarta, pada jam sibuk, terdapat 50 persen lebih banyak kendaraan dari kapasitas jalan. Sebanyak setengah dari total kendaraan, atau sekitar 11 juta kendaraan, hanya digunakan oleh satu penumpang.


Masih menurut riset BCG, dengan adanya layanan ridesharing, maka kebutuhan akan mobil pribadi di Jakarta akan berkurang menjadi 25 persen dari yang ada saat ini, yaitu sekitar 4 juta mobil. 

Responden di Jakarta dan Surabaya mengaku, mereka rela tidak lagi menggunakan kendaraan pribadinya jika layanan ridesharing menjadi lebih bisa diandalkan dengan harga yang lebih terjangkau.

Sayangnya, salah satu keluhan soal layanan ridesharing saat ini adalah harganya yang meroket tajam ketika jam-jam tertentu. Terkait hal ini, pihak Uber menjelaskan, harga yang mereka tawarkan memang bersifat dinamis. 

Biasanya, harga akan naik di sebuah kawasan ketika permintaan naik sementara tidak banyak pengemudi yang ada di kawasan tersebut. Alasan permintaan naik beragam, misalnya karena hujan deras atau karena adanya acara tertentu, seperti perayaan Tahun Baru atau konser.

Uber menjelaskan, harga layanan dinaikkan dengan tujuan untuk mendorong mitra pengemudi agar tertarik untuk memasuki kawasan macet itu untuk menjemput penumpang. 

Jika tidak mau membayar dengan harga yang lebih tinggi, pilihan yang bisa Anda ambil adalah menunggu hingga permintaan berkurang. Saat jumlah permintaan dan ketersediaan mulai seimbang, maka biaya akan kembali normal.

Uber menyebutkan, konsep biaya dinamis memang biasa diterapkan di industri yang mengalami permintaan yang tidak tetap, seperti tiket pesawat atau harga kamar hotel. 



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.