Indonesia dinilai sebagai pasar strategis dengan potensi pertumbuhan tinggi, sehingga AWS menempatkannya sebagai salah satu fokus utama pengembangan di kawasan. AWS menyampaikan rencana investasi senilai USD5 miliar (Rp) di Indonesia.
Investasi ini diproyeksikan dapat menciptakan hampir 25.000 lapangan kerja dan memberikan kontribusi sekitar USD10 miliar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Langkah ini mencerminkan keyakinan perusahaan terhadap prospek jangka panjang sektor digital nasional.
Dalam aspek teknologi, AWS memperluas akses terhadap berbagai model AI, termasuk large language models dari OpenAI, Anthropic, Amazon, serta model open-source. Ketersediaan model ini di Indonesia memungkinkan pelaku usaha lokal mengembangkan solusi berbasis generative AI tanpa harus bergantung pada infrastruktur luar negeri.
“Fokus kami bukan hanya menghadirkan infrastruktur cloud, tetapi juga membawa teknologi AI mutakhir ke Indonesia, termasuk berbagai large language models dari OpenAI, Anthropic, Amazon, hingga model open-source, agar perusahaan lokal dapat berinovasi lebih cepat di era generative AI,” ujar Country Manager AWS untuk Indonesia Anthony Amni.
Anthony menambahkan bahwa hal ini penting untuk mempercepat inovasi sekaligus menjaga kedaulatan data. Sementara itu, pengembangan sumber daya manusia juga menjadi pilar utama strategi AWS.
Sejak tahun 2017 lalu, AWS telah melatih lebih dari 1 juta talenta Indonesia, sebagian besar melalui program pro bono yang menyasar pelajar dan komunitas. Upaya ini ditujukan untuk membangun fondasi kompetensi cloud dan AI di tingkat nasional, sehingga transformasi digital tidak terhambat oleh keterbatasan keterampilan.
Dalam konteks edukasi AI, AWS bersama pelajar di Jawa Barat mencatat Guinness World Record pada Oktober 2025 setelah lebih dari 15.000 aplikasi AI generatif berhasil dibuat dalam satu hari. Capaian ini menjadi indikator percepatan literasi AI di lingkungan pendidikan dan menunjukkan potensi generasi muda dalam mengadopsi teknologi baru.
Sementara itu, AWS juga menyebut bahwa adopsi AI di kalangan bisnis Indonesia juga menunjukkan tren positif. Tercatat lebih dari 5,9 juta perusahaan telah memanfaatkan AI dengan tingkat pertumbuhan 47%.
Dari jumlah tersebut, 59% perusahaan melaporkan peningkatan pendapatan, sementara 28% mengalami kenaikan produktivitas. Data ini menegaskan bahwa AI tidak lagi sekadar eksperimen teknologi, melainkan telah menjadi penggerak nilai bisnis.
Contoh penerapan nyata terlihat pada sektor telekomunikasi dan kesehatan. Telkomsel memanfaatkan generative AI untuk analisis insiden, yang mampu mempercepat penyelesaian masalah hingga 83%.
Sementara di bidang kesehatan, solusi AI clinical summary real-time dikembangkan untuk membantu dokter dalam diagnosis prediktif. Implementasi ini menunjukkan kemampuan AI dalam mendukung efisiensi operasional sekaligus peningkatan kualitas layanan.
AWS juga menyoroti evolusi teknologi AI dari generative AI berbasis satu prompt menuju AI agents, hingga sistem multi-agent otonom yang mampu mendiagnosis masalah, membuat, serta menerapkan aplikasi secara mandiri.
Untuk mendukung fase ini, AWS mengidentifikasi empat fondasi utama, yakni model yang scalable dan terjangkau, integrasi dengan data perusahaan, infrastruktur yang aman dan scalable, serta tools pengembangan open-source portabel. Aspek keamanan ditempatkan sebagai prioritas utama.
Guna mempercepat adopsi, AWS mendorong konsep marketplace solusi AI yang diibaratkan sebagai e-commerce untuk teknologi AI. Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat memperoleh solusi AI siap pakai tanpa harus membangun semuanya dari awal.
Di tingkat lokal, mitra seperti Metrodata menghadirkan platform Megaron yang menyediakan berbagai use case, termasuk intelligent document processing, demand forecasting, smart manufacturing, dan predictive maintenance.
Secara keseluruhan, strategi AWS di Indonesia mencakup investasi, pengembangan talenta, kolaborasi pemerintah, serta penguatan ekosistem mitra. Pendekatan ini menunjukkan bahwa transformasi digital berbasis AI tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia dan ekosistem yang terintegrasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News