Menurut BBC, perjanjian senilai USD18 miliar (Rp240 triliun) ini memang bertujuan kerugian miliaran dollar AS divisi nuklir Toshiba. Perusahaan asal Jepang itu hampir dikeluarkan dari pasar saham AS karena menunda publikasi laporan keuangannya.
Jika perjanjian ini disetujui, hal ini akan memastikan Toshiba tetap menjadi perusahaan publik. Toshiba dikenal sebagai perusahaan pembuat chip nomor dunia dunia. Unit Toshiba Memory memberikan kontribusi sekitar seperempat dari total pendapatannya.
Bain Capital telah bekerja sama dengan SK Hynix dari Korea Sealatan dan mengajak perusahaan pembeli chip buatan Toshiba seperti Apple dan Dell untuk membeli divisi tersebut. Namun, masih belum diketahui apakah Western Digital, yang juga tertarik untuk membeli divisi Toshiba ini, akan mundur begitu saja.
Sampai minggu lalu, perusahaan data storage -- yang memiliki perusahaan bersama dengan Toshiba di AS -- itu diduga akan memenangkan perjanjian untuk membeli divisi Toshiba. Sebelumnya, mereka telah menuntut Toshiba ke pengadilan, menyebutkan bahwa perjanjian ini tidak bisa berlangsung tanpa izin mereka.
"Kami kecewa Toshiba mengambil keputusan ini meski Western Digital telah terus berusaha untuk mencapai kata mufakat untuk kepentingan semua pemegang kepentingan," tulis Western Digital dalam sebuah pernyataan resmi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News