Country Manager Indonesia, TIBCO Software.
Country Manager Indonesia, TIBCO Software.

Melihat Smart City Bikin TransJakarta Lebih Nyaman

Teknologi smart city
Ellavie Ichlasa Amalia • 18 Juli 2019 18:04
Jakarta:Jika Anda sering menggunakan TransJakarta untuk berpergian, Anda pasti sadar bahwa pada periode tertentu, bus TransJakarat sangat penuh sesak, sementara pada jam lain, bus tersebut kosong melompong.
 
Menurut Seno Soemadji, Country Manager Indonesia, TIBCO Software, masalah ini bisa diselesaikan dengan pengimplementasian sistem smart city. Menurutnya, masalah transportasi umum, seperti TransJakarta, berjalan berdasarkan hukum permintaan dan penawaran (supply and demand).
 
Pria yang akrab dengan panggilan Seno ini menjelaskan, satu hal penting bagi penyelenggara adalah untuk mengetahui waktu kapan permintaan akan bus TransJakarta menjadi naik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pertanyaan yang lebih kompleks, bagaimana cara mengenali itu secara real-time. Jadi, begitu terjadi penumpukan, langsung diatasi," ujarnya ketika ditemui di JCC dalam acara Indonesia Internasional Smart City Expo and Forum (IISMEX).
 
Seno mengatakan, tugas TIBCO adalah membantu perusahaan untuk mengolah data dan melakukan analisa.
 
"Salah satu pendekatan untuk membawa data adalah melakui streaming secara real-time dari perangkat IoT yang tertanam, dalam kasus ini, transportasi publik, seperti bus atau kereta."
 
Dalam kasus TransJakarta, untuk dapat mencegah penumpukan penumpang di halte bus, maka diperlukan Command Center. Dia mengungkap, command center bukanlah sekadar tempat mengakses semua data dari bus-bus yang ada, tapi juga pusat yang dapat mengakses semua komponen operasi, seperti bus, pool bus, serta supir.
 
Anda bisa melihat perbandingan mekanisme smart city dengan command center dan tanpa command center pada gambar di bawah.
 
Melihat Smart City Bikin TransJakarta Lebih Nyaman
Pendekatan tanpa command center.
Melihat Smart City Bikin TransJakarta Lebih Nyaman
Pendekatan dengancommand center.
 
Dia mencontohkan, ketika ada satu bus yang mengalami kerusakan di tengah rute, command center akan dapat mengetahui ini. Lebih dari itu, mereka juga bisa mencari bus yang sedang tidak digunakan, beserta supirnya. Command center lalu akan memerintah bus itu untuk menggantikan bus yang mengalami maslah.
 
"Layaknya manajemen kokpit. Pilot bisa mengatur semua mesin pada pesawat sendiri tanpa harus keluar dari kokpit," ujarnya.
 
Seno mengungkap, banyak pihak yang mengklaim mereka telah memiliki command center. Namun, command center itu tak lebih dari tempat untuk menerima video data dari bus. Sementara ketika ada masalah, seperti bus rusak, maka pekerja masih harus menghubungi pihak lain secara manual, misalnya dengan telepon.
 
"Command center seharusnya memiliki mekanisme komunikasi dan kolaborasi juga," kata Seno. Selain mekanisme pengaturan bus, ada fungsi lain dari sistem smart city pada transportasi publik, yaitu untuk memastikan bahwa kendaraan tidak mengalami masalah ketika digunakan.
 
Sayangnya, saat ini, TransJakarta belum bekerja sama dengan TIBCO, baik untuk pengadaan command center atau penggunaan solusi dari perusahaan penyedia software analitis tersebut.
 
Dia memberikan contoh pemasangan sensor pada kereta. Sensor itu akan mencatat data berupa getaran dan suhu pada mesin sehingga ketika ada anomali, pihak penyelenggara layanan kereta akan tahu bahwa ada masalah pada kereta.
 
Dengan begitu, mereka akan bisa memperbaiki masalah tersebut sebelum terjadi kecelakaan atau kereta terhenti di tengah perjalanan.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif