Fokus utama dalam acara ini adalah pengenalan teknologi Small Cell. Mungkin terkesan asing, tetapi jika melihat lebih jauh, ini adalah teknologi yang meningkatkan efisiensi jaringan dalam suatu wilayah. Biasanya, coverage satu jaringan dalam kota masih memiliki banyak celah. Para operator terkendala dengan pemasangan pemancar seperti BTS atau macro site karena lahan yang terbatas.
“Anda sering merasakan terputusnya koneksi jaringan ketika berada di dalam gedung,” kata Mohamad Rosidi, GM Solution Consulting Huawei Indonesia. “70 persen coverage dalam satu gedung malah berasal dari outdor. Selain itu, banyak halangan untuk transmisi sinyal, misalnya kaca gedung. Ada juga yang sinyalnya kencang, tetapi pengguna tidak bisa menelepon. Itu terjadi karena adanya interference.”
Small Cell juga bisa brarti menanamkan infrastruktur minimalis sperti micro BTS untuk menutupi celah jaringan itu. Artinya, ketimbang memasang macro site, perangkat pemancar sinyal yang biasanya ada di atap gedung, pemasangan perangkat small cell tergolong lebih efisien. Secara biaya, small cell lebih hemat karena biaya listrik, pemasangan, dan perawatan yg lebih murah.
Penerapan teknologi Small Cell memang cocok untuk kalangan perusahaan. Namun, pada hakikatnya, diperlukan kerja sama antara dua pihak, yaitu penyedia perangkat Small Cell dan operator telekomunikasi. Dari Huawei sendiri, mereka memiliki LampSite 2.0 yang telah mendukung teknologi jaringan terkini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News