PANDI tengah dalam proses mendaftarkan huruf hanacaraka sebagai International Domain Name di ICANN.
PANDI tengah dalam proses mendaftarkan huruf hanacaraka sebagai International Domain Name di ICANN.

Lestarikan Budaya Bahasa, PANDI Daftarkan Aksara Jawa ke ICANN

Teknologi teknologi pandi
Lufthi Anggraeni • 01 Februari 2020 11:43
Jakarta: Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) mengumumkan bahwa lembaganya tengah mendaftarkan Top Level Domain dengan menggunakan aksara bahasa Jawa atau Hanacaraka di Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN).
 
Pendaftaran untuk memungkinkan aksara hanacaraka digunakan di internet ini dilakukan PANDI tidak hanya sebagai bagian dari strateginya untuk dapat bersaing di ranah penyedia domain internet, tapi juga untuk melestarikan salah satu budaya Indonesia.
 
“Ini jadi bagian dari aktivitas non-profit, juga sebagai upaya kita untuk melestarikan budaya Indonesia via internet. Kita mau perluas awareness masyarakat, sehingga akan makin banyak yang bisa membaca huruf warisan budaya kita,” ujar Ketua PANDI Yudho Giri Sucahyo.
 
Inisiatif menjadikan huruf jawa kuno atau hanacaraka ini disebut Yudho telah tercetus sejak pengurus periode sebelumnya. Namun, PANDI mengaku baru memulai proses pendaftaran ke ICANN setelah bertemu dan mendapatkan dukungan dari Keraton Yogyakarta.
 
Proses pendaftaran di ICANN disebut Yudho memang memakan waktu mengingat lembaga internasional ini mengharuskan pendaftar untuk menyiapkan proposal dan dokumen terkait seperti surat rujukan dari pihak yang dapat membuktikan bahwa hanacaraka adalah budaya Indonesia, dalam hal ini dari sejumlah Keraton di Jawa.
 
PANDI menargetkan seluruh prosedur guna menghadirkan huruf aksara sebagai International Domain Name (IDN) akan selesai pada pertengahan tahun 2020 ini. PANDI juga menyebut bahwa lembaganya telah membahas upaya tersbeut kepada pemerintah, salah satunya adalah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).
 
PANDI juga berencana membahas hal ini dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Sebab menurut Yudho, upaya PANDI ini tidak hanya terkait dengan internet yang menjadi ranah Kominfo, tapi juga terkait dengan budaya, ranah yang dinaungi oleh Kemenko PMK.
 
Saat ini, mempersiapkan infrastruktur menjadi pekerjaan rumah selanjutnya bagi PANDI. Sebab, setelah proses pendaftaran selesai, server juga harus memiliki kemampuan untuk menangani huruf selain huruf latin yang umum digunakan, dalam hal ini adalah hanacaraka.
 
PANDI juga mengajak masyarakat untuk berkontribusi dalam memperbanyak konten dengan huruf hanacaraka tersebut. Setelah huruf hanacaraka dinilai berhasil, PANDI berjanji akan merambah huruf bahasa Indonesia lain, termasuk bahasa Bugis, Bali dan Batak.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif