Hal tersebut diungkapkannya dalam Workshop Rapid Printed Circuit Board (PCB) Prototyping. Kegiatan digelar selama dua hari pada 21 - 22 Januari 2026 di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun Bandung.
“Mudah-mudahan kegiatan workshop ini dapat menambah wawasan dan mendukung kegiatan-kegiatan riset yang sedang dilakukan. Juga dapat menghubungkan ide desain digital menjadi prototipe fisik dibutuhkan suatu penghubung atau 'jembatan' sehingga prototipe tersebut dapat diuji dengan cepat serta mendukung produk yang inovatif yang bisa dikembangkan secara efisien,” jelas Budi.
Senada, Kepala PRT-BRIN, Nasrullah Armi menyebutkan, saat ini PRT memiliki fasilitas baru yakni LPKF ProtoLaser H4 dengan banyak keunggulan yakni proses cepat, multi layer, dan low cost. LPKF ProtoLaser H4 ini bermanfaat untuk prototyping PCB rangkaian elektronika, rangkaian RF, dan desain antena.
“Kehadiran fasilitas LPKF ProtoLaser H4 ini perlu diimbangi dengan peningkatan kompetensi SDM agar peralatan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan prototipe PCB yang presisi, cepat, dan sesuai kebutuhan riset,” tuturnya.
Dirinya menekankan pentingnya kegiatan workshop tersebut untuk meningkatkan kemampuan teknis para periset dalam merancang dan memproduksi PCB secara mandiri, mulai dari desain layout hingga fabrikasi prototipe.
“Kompetensi ini diharapkan dapat mempercepat validasi konsep riset, mendukung eksperimen perangkat elektronika, telekomunikasi dan RF, serta meningkatkan kualitas purwarupa yang dihasilkan,” tegas Nasrullah.
Dalam kegiatan yang digelar atas kerja sama Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI) melalui Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) bersama Nusantara Secom Infotech tersebut, Asep selaku narasumber dari Nusantara Secom Infotech memberikan pembimbingan dan panduan dalam penggunaan Protolaser H4 kepada para peserta yang terdiri para periset di Pusat Riset Telekomunikasi, Pusat Riset Elektronika, dan para pengelola laboratorium dari Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset dan KST.
Pada sesi hari pertama ini, para peserta mendapatkan pembimbingan dan panduan dalam penerapan software Protolaser H4 dan diskusi tanya jawab seputar pengaturan-pengaturannya serta pemecahan masalah pada berbagai kemungkinan 'error' yang umum terjadi pada penggunaan Protolaser H4.
"Pada hari ini kita akan melaksanakan pelatihan yang berfokus pada software dimana hal ini penting mengingat penguasaan pada software memiliki peran dalam membuat berbagai pengaturan sehingga terjadi sinkronisasi dengan mesinnya," tuturnya mengawali Workshop Rapid PCB Prototyping tersebut.
Asep menekankan banyak hal yang penting diperhatikan dalam pengaturan pada software tersebut. Salah satunya adalah input terkait informasi ketebalan material. "Ketika kita salah menginput ketebalan material, otomatis hal tersebut akan mempercepat kerusakan pada mesin karena adanya ketidaksesuaian antara informasi pengaturan ketebalan dengan material yang digunakan," tegas Asep.
Selain itu, ukuran material juga penting diperhatikan agar sesuai dengan kapasitas mesin termasuk jenis material. “Material tidak boleh bersifat mirror, karena laser dikhawatirkan mengenai lensa, sehingga sangat disarankan untuk jenis material seperti ini diberikan lapisan terlebih dahulu dibagian bawahnya,” imbuhnya.
Sebagai informasi, ProtoLaser H4 merupakan sistem laser desktop ringkas dari LPKF Laser untuk prototyping dan manufaktur cepat PCB presisi tinggi, yang mampu memproses berbagai material seperti FR4 (Flame Retardant 4), PTFE (Polytetrafluoroethylene, juga dikenal sebagai Teflon), keramik, dan substrat fleksibel tanpa perlu masker atau alat, menjadikannya solusi all-in-one yang efisien untuk laboratorium elektronik dan riset.
Pada hari kedua, para peserta mendapatkan pembimbingan dan panduan praktik penggunaan ProtoLaser H4 di laboratorium. Dari kegiatan workshop ini, selain meningkatkan kemampuan teknis, diharapkan para peserta mampu menjadi knowledge holder dan multiplier di unit kerjanya masing-masing.
“Sehingga pemanfaatan LPKF ProtoLaser H4 dapat berkelanjutan, terstandar, dan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas, kolaborasi riset, serta luaran riset.” pungkas Nasrullah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News