Meskipun belum ada informasi detail terkait rencana akuisisi ini, tiga narasumber yang mengaku tahu rencana Fitbit mengatakan bahwa utamanya, Fitbit tertarik dengan properti intelektual milik Pebble. Mereka juga mengatakan, merek Pebble akan mati.
Laporan dari Financial Times memperkuat berita tentang rencana Fitbit untuk membeli Pebble. Disebutkan, alasan utama Fitbit untuk mengakuisisi Pebble adalah PebbleOS, yang merupakan salah satu platform wearable dengan katalog apliaksi paling besar dan bisa dipasangkan dengan iPhone maupun smartphone Android.
Meskipun banyak pekerja Pebble yang diperkirakan akan bergabung dengan Fitbit untuk memelihara produk Pebble yang sudah diluncurkan, kemungkinan besar, proses manufaktur smartwatch mereka akan terhenti setelah akuisisi ini.
Terkait aspek keuangan dari akuisisi ini, Times mengimplikasikan, Pebble akan puas dengan nilai akuisisi sekitar USD200 juta (Rp2,7 triliun). Namun, menurut BGR, angka ini dianggap perkiraan optimistis. Sekarang, seorang narasumber yang tahu tentang akuisisi ini memberitahu TechCrunch bahwa nilai akhir akuisisi Pebble akan jauh lebih murah, berkisar antara USD324 juta (Rp4,4 triliun) sampai USD40 juta (Rp540 miliar).
Rencana akuisisi Pebble oleh Fitbit menunjukkan betapa tidak stabilnya industri teknologi. Tahun lalu, Pebbel baru saja berhasil memecahkan rekor pengumpulan dana mereka saat mereka mendapatkan USD10.5 juta (Rp141,9 miliar) untuk membuat Pebble Time dari 48 ribu orang hanya dalam waktu 48 jam. Setelah satu minggu, Pebble Time berhasil mendapatkan USD13.4 juta (Rp181 miliar).
Namun, dalam beberapa bulan belakangan, Pebble tampaknya telah kehilangan momentum mereka dalam pasar yang sangat kompetitif. Faktanya, pada bulan Maret, CEO Pebble, Eric Migicovsky berkata pada Tech Insider bahwa mereka berencana untuk memecat 25 persen dari pekerjanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News