Sebaliknya, mereka tertarik untuk berpolitik, tapi mereka sudah kehilangan kepercayaan dengan metode lama yaitu partai politik.
Masyarakat merasa, partai politik yang ada terlalu mirip dengan satu sama lain. Selain itu, para politikus juga dirasa terlalu sibuk berpolitik dan tidak lagi memikirkan kepentingan rakyat.
Masyarakat percaya bahwa partai-partai besar bekerja sama dengan berbagai perusahaan raksasa untuk kepentingan masing-masing. Hal ini membuat masyarakat merasa suara mereka tidak lagi penting. Masalah inilah yang memunculkan pemikiran tentang menggantikan politikus dengan robot.
Jika masyarakat kehilangan kepercayaan dengan partai politik, pilihan lain apa yang mereka miliki? Salah satu alternatif yang ada adalah dengan memastikan para politikus - yang merupakan pembuat peraturan - tidak mendapatkan pengaruh dari luar.
Menurut The Conversation, dengan begitu, maka peraturan yang dibuat akan didasarkan pada bukti ilmiah yang ada dan bukannya karena ada keperluan pribadi atau kelompok.
Sekilas, menggunakan robot untuk menggantikan politikus adalah keputusan yang baik. Namun, tetap akan ada beberapa masalah yang memerlukan pemikiran manusia.
Dalam kasus menyangkut perkembangan teknologi misalnya, keputusan yang dibuat oleh robot mungkin akan lebih baik dari keputusan yang dibuat manusia. Dengan bantuan mesin, perhitungan rumit yang memerlukan waktu bertahun-tahun jika dikerjakan secara manual dapat diselesaikan dalam hitungan detik.
Kemampuan mesin inilah yang dapat berguna dalam pembuatan keputusan mengenai masalah tertentu, seperti dalam hal tata kota. Mesin akan dapat mengetahui apakah sebuah proyek infrastruktur pantas untuk dikerjakan dengan memperkirakan laju trafik di masa depan.
Namun, masalah-masalah yang lebih fokus pada aspek sosial dan etik adalah masalah yang tidak bisa diserahkan pada robot begitu saja. Misalnya masalah eutanasia alias suntik mati. Karena, hal itu berhubungan dengan kepercayaan seseorang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News