Laporan terbaru dari Zebra Technologies dan Oxford Economics mengungkapkan bahwa biaya tinggi untuk pelatihan dan peningkatan keterampilan (upskilling) karyawan kini menjadi hambatan nomor satu bagi modernisasi industri ini.
Berdasarkan survei terhadap lebih dari 200 pengambil keputusan di sektor T&L, sebanyak 41% responden menyebutkan bahwa tingginya biaya pelatihan pekerja adalah hambatan terbesar dalam memperbaiki alur kerja operasional. Angka ini bahkan melampaui tantangan teknis klasik, seperti kesulitan meningkatkan atau mengintegrasikan teknologi warisan (legacy technology), yang dipilih oleh 36% responden.
Tingginya kebutuhan pelatihan ini berakar pada strategi adopsi teknologi industri logistik saat ini. Laporan tersebut mematahkan mitos bahwa otomatisasi bertujuan untuk menyingkirkan tenaga kerja manusia sepenuhnya. Faktanya, hanya 5% responden yang memilih penggunaan robotika dan mesin lain untuk menggantikan tenaga kerja manusia sebagai prioritas otomatisasi mereka.
Sebaliknya, mayoritas perusahaan (sekitar 42-43%) mendefinisikan otomatisasi sebagai penggunaan teknologi digital untuk merampingkan alur kerja dan meningkatkan produktivitas manusia. Hal ini berarti gudang dan armada pengiriman semakin dibanjiri oleh perangkat baru—mulai dari komputer seluler, tablet, pemindai RFID, hingga alat bantu berbasis AI.
Konsekuensinya, perusahaan harus mengeluarkan investasi besar tidak hanya untuk membeli alat, tetapi juga untuk melatih ribuan staf lapangan agar mampu mengoperasikan teknologi canggih tersebut secara efektif.
Tekanan untuk melakukan modernisasi ini tetap intens meskipun biaya pelatihan melambung tinggi. Seorang direktur strategi operasi di sebuah layanan pos besar Eropa menyatakan dalam laporan tersebut, "Apa yang perlu kami lakukan untuk menanggapi dinamika yang berubah di industri kami?". Pertanyaan ini mencerminkan urgensi untuk beradaptasi agar tidak tertinggal dari kemampuan kompetitor.
Selain masalah biaya, ketersediaan tenaga kerja terampil juga menjadi isu krusial. Laporan mencatat bahwa organisasi berskala besar (dengan pendapatan USD1 miliar hingga USD9,9 miliar) menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menemukan pekerja terampil dibandingkan dengan perusahaan yang sangat besar atau menengah.
Meskipun tantangan upskilling ini mahal dan sulit, para pemimpin industri menyadari bahwa ini adalah langkah yang tak terelakkan. General manager dari sebuah perusahaan mesin industri global menegaskan bahwa menyeimbangkan profitabilitas dengan efisiensi dan keselamatan adalah kebutuhan strategis, bukan sekadar tindakan penyeimbang.
Bagi perusahaan yang berhasil melewati rintangan pelatihan ini, imbalannya sangat nyata. Organisasi yang sukses mengoptimalkan alur kerja mereka dan melatih stafnya mencatat peningkatan produktivitas karyawan rata-rata sebesar 21%. Data ini menegaskan bahwa dalam era logistik digital, investasi terbesar dan terpenting perusahaan bukanlah pada mesin, melainkan pada manusia yang mengoperasikannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News