Ilustrasi: Microsoft
Ilustrasi: Microsoft

Ketika Kecerdasan Buatan Jadi Ujung Tombak Serangan Siber

Mohamad Mamduh • 09 Februari 2026 10:05
Ringkasnya gini..
  • Tren utama yang ditekankan dalam laporan ini adalah pergeseran taktik dari membobol (breaking in) sistem secara teknis menjadi log masuk (logging in).
  • Selain teks, laporan Microsoft juga memberikan peringatan keras mengenai peningkatan penggunaan deepfake.
  • Perusahaan tidak lagi bisa santai dan ragu-ragu dalam memperkuat benteng digital mereka.
Jakarta: Lanskap keamanan digital global telah memasuki era baru yang mengkhawatirkan. Menurut Laporan Pertahanan Digital Microsoft 2025 yang baru saja diterbitkan, Kecerdasan Buatan (AI) bukan lagi sekadar alat pembantu produktivitas, tetapi telah berubah menjadi pengganda ancaman yang sangat efisien bagi penjahat siber di seluruh dunia.
 
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa integrasi AI dalam aktivitas ilegal telah meningkatkan profitabilitas kampanye penipuan secara drastis. Salah satu temuan paling mengejutkan adalah bagaimana AI generatif mampu meningkatkan efektivitas serangan phishing hingga 50 kali lipat.
 
Jika dahulu penjahat membutuhkan waktu berjam-jam untuk merancang email tipuan yang meyakinkan, kini AI memungkinkan mereka menghasilkan ribuan umpan yang sangat personal dan bebas kesalahan tata bahasa dalam hitungan detik.

Tren utama yang ditekankan dalam laporan ini adalah pergeseran taktik dari membobol (breaking in) sistem secara teknis menjadi log masuk (logging in) menggunakan identitas yang dicuri. AI memainkan peran kritis dalam fase ini melalui teknik yang dikenal sebagai ClickFix.
 
Penjahat menggunakan AI untuk menciptakan kotak dialog palsu yang terlihat persis seperti peringatan sistem resmi (contohnya, pembaruan peramban web yang gagal). Pengguna yang terpedaya akan diarahkan untuk menyalin dan menempelkan kode perintah ke dalam terminal komputer mereka.
 
Dengan bantuan AI untuk menyesuaikan kode tersebut sesuai dengan sistem operasi mangsa, penjahat dapat mencuri kredensial atau memasang perangkat lunak berbahaya tanpa memicu alarm keamanan tradisional.
 
Selain teks, laporan Microsoft juga memberikan peringatan keras mengenai peningkatan penggunaan deepfake—baik audio maupun video buatan AI. Penjahat kini mampu meniru suara pejabat eksekutif perusahaan atau anggota keluarga korban untuk melakukan penipuan keuangan berskala besar.
 
Laporan tersebut mencatat lonjakan dalam penggunaan "identitas sintetis". AI menggabungkan data asli dengan data palsu untuk menciptakan profil pengguna yang terlihat sah. Identitas ini digunakan untuk melewati sistem verifikasi biometrik seperti "liveness check" (pemeriksaan keaktifan) yang biasanya digunakan oleh institusi perbankan untuk memverifikasi identitas pelanggan saat pendaftaran daring.
 
Meskipun AI menjadi senjata bagi penyerang, laporan itu menegaskan bahwa AI juga merupakan kunci bagi pertahanan masa depan. Microsoft kini memproses lebih dari 100 triliun sinyal ancaman setiap hari menggunakan model AI untuk mendeteksi pola serangan yang mustahil dilihat oleh manusia.
 
Salah satu inovasi pertahanan yang dibahas adalah pengembangan Guardian Agents. Ini merupakan sistem AI khusus yang bertindak sebagai pengawas bagi sistem AI lainnya. Agen penjaga ini berfungsi memantau setiap interaksi guna memastikan tidak ada manipulasi prompt atau upaya untuk mengeksploitasi kelemahan model bahasa besar (LLM) perusahaan.
 
Laporan Pertahanan Digital 2025 memberikan pesan yang jelas: keamanan siber bukan lagi sekadar masalah teknis bagi departemen IT. Organisasi disarankan untuk segera beralih ke metode autentikasi multifaktor (MFA) yang tahan terhadap phishing dan memperkuat literasi AI di kalangan karyawan.
 
"Dalam perlombaan senjata digital ini, kecepatan adalah segalanya," tulis laporan tersebut. Dengan penjahat siber yang kini memanfaatkan kecepatan AI, perusahaan tidak lagi bisa santai dan ragu-ragu dalam memperkuat benteng digital mereka.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA