Accenture merilis laporan Accenture Technology Vision 2020
Accenture merilis laporan Accenture Technology Vision 2020

5 Tren yang Harus Dilihat Perusahaan Soal Disrupsi Teknologi

Teknologi teknologi accenture corporate transformasi digital
Lufthi Anggraeni • 24 Maret 2020 14:13
Jakarta: Untuk bersaing dan mencapai kesuksesan dalam dunia yang serba digital, perusahaan-perusahaan perlu menetapkan fokus baru untuk mengimbangi nilai yang selalu dikejar dalam persaingan dan pencapaian kesuksesan, dengan "nilai-nilai" sesuai harapan pelanggan dan karyawan mereka, menurut Accenture Technology Vision 2020.
 
Laporan tahunan Accenture edisi ke-20 memprediksi tren teknologi utama yang akan menata ulang bisnis-bisnis selama tiga tahun ke depan.
 
Menurut laporan "Kita, Manusia di Era Pasca Digital: Dapatkah perusahaan Anda bertahan melewati 'bentrokan teknologi (tech-clash)?", meskipun teknologi semakin melekat ke dalam kehidupan manusia, upaya organisasi-organisasi untuk memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat masih bisa menemui kegagalan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perlu adanya pola pikir dan pendekatan yang baru pada saat teknologi digital ada di mana-mana, dan perusahaan-perusahaan memasuki dekade pada saat mereka harus memenuhi janji-janji digitalnya.
 
Dari survei yang dilakukan Accenture untuk laporan Technology Vision terhadap lebih dari 6.000 eksekutif bisnis dan TI di seluruh dunia, 83% mengakui bahwa teknologi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman manusia.
 
“Bahkan di Indonesia, 97% eksekutif setuju akan pentingnya hubungan tersebut,” kata Indra Permana, Technology Delivery Lead, Accenture di Indonesia.
 
“Karena terpesona oleh janji teknologi, banyak organisasi menciptakan produk dan layanan digital semata-mata karena mereka bisa melakukannya, tanpa sepenuhnya mempertimbangkan konsekuensi manusia, organisasi, dan sosial,” kata Indra.
 
Menurut laporan dilanjutkannya penggunaan model yang ada saat ini tanpa memikirkan perlunya inovasi, tidak hanya berisiko mengganggu pelanggan atau memutus keterlibatan karyawan, tetapi juga bisa secara permanen membatasi potensi pembaharuan dan pertumbuhan di masa depan.
 
Namun demikian, tech-clash adalah tantangan yang bisa diatasi. Technology Vision mengidentifikasi lima tren utama yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan-perusahaan selama tiga tahun ke depan.
 
Pertama adalah pentingnya personalisasi pengalaman. Organisasi perlu merancang personalisasi pengalaman yang memperkuat kegiatan dan pilihan seseorang. Lima dari enam eksekutif bisnis dan TI yang disurvei (85 persen), di Indonesia (92 persen) percaya bahwa kesuksesan persaingan dalam dekade baru ini menuntut organisasi-organisasi untuk meningkatkan hubungannya dengan para pelanggan, menjadikan mereka sebagai mitra.
 
Kecerdasan Buatan (AI) harus memberikan kontribusi pada cara manusia melakukan pekerjaan mereka, bukan hanya menjadi pendukung otomatisasi. Perusahaan-perusahaan harus memikirkan kembali pekerjaan yang mereka lakukan untuk menjadikan AI sebagai bagian generatif dari proses kerja tersebut.
 
Saat ini, hanya 37 persen organisasi, 47 persen di Indonesia, yang melaporkan penggunaan desain inklusif atau prinsip desain yang berpusat pada manusia untuk mendukung kolaborasi antara manusia dan mesin.
 
Asumsi tentang siapa yang merupakan pemilik dari suatu produk sedang ditantang di dunia yang memasuki situasi “stagnan dalam tahap beta.”
 
Hampir tiga perempat (74 persen) eksekutif, sedang di Indonesia 82 persen, melaporkan bahwa produk dan layanan yang terhubung dengan organisasi mereka akan memiliki pembaharuan dalam jumlah yang lebih banyak atau jauh lebih banyak selama tiga tahun ke depan.
 
Robotika tidak lagi terkurung di dalam gudang atau pabrik. Dengan 5G yang siap untuk secara signifikan mempercepat pertumbuhan tren, setiap perusahaan harus memikirkan kembali masa depannya melalui lensa robotika.
 
Pandangan eksekutif tentang bagaimana karyawan mereka akan merangkul robotika terpecah: 45 persen mengatakan bahwa karyawan mereka akan merasa tertantang dalam mencari cara untuk bekerja sama dengan robot, sementara 55 persen meyakini bahwa karyawan mereka akan dengan mudah menemukan cara untuk bekerja sama dengan robot.
 
Di Indonesia berbeda, karena (82 persen) yakin bahwa industri mereka membutuhkan robot di alam terbuka.
 
Perusahaan-perusahaan memiliki akses ke sejumlah besar teknologi disruptif yang belum pernah ada sebelumnya, seperti buku besar terdistribusi (distributed ledger), AI, extended reality, dan komputasi kuantum.
 
Untuk mengelola semuanya, organisasi-organisasi perlu membuat DNA inovasi unik mereka sendiri sambil berkembang dengan kecepatan yang dituntut oleh pasar saat ini. Tiga perempat (76 persen), di Indonesia 83 persen, eksekutif percaya bahwa kebutuhan untuk inovasi belum pernah setinggi ini.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif