Disney Bikin Layanan Sendiri, Netflix tak Masalah
Co-founder & CEO Netflix Reed Hastings
Jakarta: Netflix mengaku tak masalah ketika salah satu partner lama mereka, Disney, berpisah dan menciptakan layanan streaming sendiri.

Hal ini diungkapkan Co-founder dan CEO Netflix Reed Hastings. Disney memang telah mewacanakannya, dan menargetkan layanan mandirinya tersedia mulai tahun depan. Rencananya, nama layanan tersebut adalah Disney+.

“Saya rasa mereka akan punya layanan yang bagus,” kata Reed. “Kita sudah lama menjalin kerja sama dengan Disney. Saya senang nantinya kita punya teman. Ini juga akan menguntungkan konsumen.”


Ia melihat bahwa Disney yang masuk ke layanan streaming secara mandiri akan meningkatkan kualitas layanan lainnya yang sudah ada. Dengan begitu, pasar makin kompetitif.

Selain Netflix, sudah ada layanan lain dengan pasar yang sama. Sebut saja Amazon Prime Video, dan pemain dari Asia Tenggara seperti iflix.

Bertambahnya pemain baru dalam industri ini diklaim akan menuntu kreativitas yang lebih baik. Tidak hanya dari segi konten, kompetisi ini juga akan berdampak pada harga dan fitur yang ditawarkan.

Netflix dan Disney sudah lama menjalin kerja sama dalam menggarap konten spesial. Beberapa seri dari Marvel yang hadir secra eksklusif adalah Daredevil, Jessica Jones, Iron Fist, Black Lightning, The Punisher, dan Luke Cage.

Semua jagoan ini menyediakan kisah dengan sudut pandang menarik, bagaimana menjalani kehidupan sebagai superhero, yang tidak punya kekuatan sehebat tim Avenger.

Dalam kesempatan terpisah, CEO Disney telah mengumumkan kehadiran layanan streaming film mandiri bernama Disney+.

Layanan ini akan menampilkan berbagai serial film anyar yang masuk dalam Marvel Cinematic Universe dan Star Wars. Selain itu, berbagai film yang sudah pernah digarap dan dipegang Disney juga akan hadir.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.