Foto: Zebra Technologies
Foto: Zebra Technologies

Bukan Robot, Ini Cara AI Mengubah Pekerjaan Kurir dan Gudang Logistik

Mohamad Mamduh • 06 Januari 2026 13:14
Jakarta: Ketika mendengar istilah otomasi logistik, bayangan yang sering muncul adalah gudang futuristik yang dipenuhi robot atau drone, tanpa kehadiran manusia.
 
Laporan terbaru dari Zebra Technologies dan Oxford Economics bertajuk Elevating transportation and logistics value: The impact of Intelligent Operations mengungkapkan realitas yang berbeda di tahun 2025. Alih-alih menggantikan manusia, Kecerdasan Buatan (AI) justru menjadi rekan kerja digital yang mengubah cara kurir dan staf gudang bekerja secara mendasar.
 
Laporan tersebut menyoroti bahwa hanya 5% responden yang memilih robotika sebagai prioritas utama untuk menggantikan tenaga kerja manusia. Sebaliknya, fokus industri saat ini adalah Operasi Cerdas (Intelligent Operations), yang mengintegrasikan teknologi canggih seperti AI, otomatisasi, dan data dengan keahlian manusia untuk mengoptimalkan proses bisnis.

Salah satu inovasi paling nyata yang disorot dalam laporan ini terjadi di jalan raya. Seorang direktur operasi senior di perusahaan logistik global AS menggambarkan bagaimana sistem bertenaga AI mengubah rutinitas pengemudi pengiriman. Kini, pengemudi tidak perlu lagi menepi untuk membaca instruksi pengiriman atau memeriksa catatan fisik yang berbahaya jika dilakukan saat mengemudi.
 
Sebagai gantinya, pengemudi menerima informasi penting mengenai lokasi dan cara penyelesaian pengantaran melalui transkripsi audio langsung ke earpiece atau radio mereka. Dampaknya ternyata signifikan.
 
"Jika kami bisa menyelesaikan pemberhentian lebih cepat dan meningkatkan produktivitas dengan menambahkan satu pemberhentian tambahan—bahkan jika itu hanya satu pemberhentian tambahan setiap dua hari—itu adalah hal yang sangat besar," ujar direktur tersebut.
 
Selain itu, hampir dua pertiga perusahaan kini menggunakan atau sedang menguji coba AI untuk memprediksi Estimasi Waktu Kedatangan (ETA), serta 57% menggunakannya untuk perencanaan dan optimalisasi rute6.
 
Di dalam gudang, AI juga mengisi celah yang selama ini menjadi kendala teknologi lama. Sebagai contoh, di sebuah layanan pos Eropa, pemindai pengenalan karakter optik (OCR) tradisional sering kesulitan membaca alamat tulisan tangan yang tidak jelas pada paket.
 
Di sinilah AI berperan untuk mengisi bagian yang kosong dan memecahkan kode tulisan yang sulit dibaca tersebut, sebuah langkah logis berikutnya dalam evolusi operasional. Adopsi teknologi ini berjalan cepat. Hampir 40% responden survei menyatakan telah menggunakan alat AI untuk peramalan permintaan (demand forecasting), dan lebih dari dua pertiga sedang menggunakan atau menguji coba AI untuk manajemen inventaris.
 
Pergeseran menuju alat bantu digital ini bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan bisnis. Organisasi Transportasi dan Logistik (T&L) yang telah melakukan perbaikan alur kerja yang berarti dalam dua tahun terakhir mencatat peningkatan produktivitas karyawan rata-rata sebesar 21%.
 
Lebih jauh lagi, organisasi yang fokus memperbaiki manajemen inventaris melaporkan pertumbuhan pendapatan 3,4 poin persentase lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak melakukannya. Bagi 20 perusahaan T&L teratas di daftar Forbes Global 2000, optimalisasi semacam ini berpotensi menghasilkan tambahan pendapatan agregat sebesar USD23,7 miliar.
 
Pada akhirnya, masa depan logistik di tahun 2025 bukanlah tentang mesin yang mengambil alih, melainkan tentang memberdayakan pekerja dengan data real-time melalui tablet, komputer seluler, dan analitik prediktif untuk bekerja lebih cerdas dan efisien.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan